Minggu, 05 September 2010

LAst Angel 9

Chapter 9
Pagi ini terlihat sedikit mendung. Kuharap tidak akan hujan. Aku membawa kue itu dan masuk ke mobil milik Junsu yang terpakir di depan rumahku. Mobil melaju dengan cepat dan aku semakin deg-degan. Aku takut, ada sesuatu menggangguku. Junsu terlihat santai. Dia menyalakan lagu milik mereka sendiri dari audio di mobilnya. Tapi lagu-lagu itu malah ngebuat aku makin gak karuan.
Akhirnya mobil itu berhenti tepat di depan sekolah. Kulihat Arya sedang duduk di kantornya. Aku berjalan mendekat dan Junsu mengikutiku dari belakang. Ada yang aneh, kulihat Arya sedang bertengkar dengan seseorang. Dan aku tak bisa melihat orang itu karena dia tersembunyi di balik tirai. Junsu melihat kearahku. Dan aku makin khawatir. Entahlah, perasaanku semakin gak karuan.
“Kau yakin ingin menyatakan perasaanmu sekarang? Kulihat situasinya sedang kurang pas.” Junsu benar tapi aku harus masuk. Kudengar bunyi guruh menandakan hujan akan turun. Dan kulihat langit semakin gelap. Lagi-lagi terdengar teriakan wanita dari dalam kantornya. Aku semakin takut. Aku harus masuk!
Tepat saat aku akan melangkahkan kakiku kulihat Arya mencium wanita itu. Walaupun sekarang terlihat tidak begitu jelas, tapi aku bisa melihatnya. Junsu kaget dan kue yang kupegang terjatuh. Hujan tiba-tiba mengguyurku. Aku tak percaya dengan semua yang kulihat. Ini…., ini…, apa maksudnya??? Kenapa???? Junsu terlihat ingin memelukku saat aku hampir jatuh. Air mataku tiba-tiba mengalir. Ada rasa sakit yang luar biasa di hatiku. Aku gak kuat. Junsu memelukku, dan berusaha menenangkanku. Tapi aku….,
Aku berlari meninggalkan Junsu dibelakangku. Aku berlari sekuat yang kubisa. Hujan terus mengguyurku. Dan kakiku membawaku ke danau sekolah. Dan aku menangis disana. Kudengar langkah kaki Junsu mendekat. Tapi aku gak perduli.
“Kenapa??!!! Kenapa aku begitu sial!!! Kenapa dia???!!! Aku mencintainya!!!” teriakanku bergema. Ingatan akan masa-masa yang kuhabiskan di danau ini bersama Arya terus mengejarku. Senyum itu, senyum yang selalu ada untukku ternyata bukan milikku. Apa yang terjadi benar-benar membunuhku. Aku bener-bener udah gak tau lagi mau bilang apa. Semuanya berhimpitan masuk ke otakku dan ini membuatku gila. Aku..., aku cinta dia......
Junsu terlihat begitu ingin menghiburku. Walaupun dia hanya berdiri disampingku. Aku tahu karena makin lama dia makin mendekat. Dia memelukku dan tiba-tiba menciumku. Aku tau ini cuma untuk menghiburku tapi aku senang. Hujan makin deras tapi makin lama aku semakin hangat semuanya seperti luntur dibalut oleh tiap tetes air hujan yang mengguyurku. aku berharap ini semua cuma mimpi. semoga ini benar-benar cuma mimpi. aku takut. bener-bener gak mau percaya kalo aku melihatnya bersama...., sudahlah bukankah ini sudah jelas! kau bodoh kalau kau masih terus mengharapkannya! kau ingat! kau masih punya janji pada Junsu untuk membantunya!

0 komentar: