Minggu, 05 September 2010

LAst angel 8

Chapter 8
Kulihat Arya duduk di danau sekolah. Dia terus menatap genangan air yang tenang di hadapannya. Aku mendekat dan duduk disampingnya.
“Kau ok?” katanya. Aku diam dan tertawa.
“Aku baik-baik saja. Kau kenapa?”
Arya menatapku tajam dan jantungku lagi-lagi gak bias ditawar.
“Apa dia selalu begitu?”
“Maksudmu?”
“Apa dia selalu bersikap seenaknya padamu?” kata-kata Arya membuatku tertawa.
“Tentu saja tidak. Dia baik, bahkan sangat baik padaku. Hanya aku juga gak ngerti kenapa hari ini dia berubah. Terlihat sangat aneh. Tapi di Pesta dia terlihat sangat baik.”
“Kenapa kau mau bersamanya…, maksudku kenapa kau mau memainkan permainan ini?”
Aku diam dan teringat akan semua kontrak ku dan Junsu.
“Dia menolongku, dan aku hanya balik menolongnya. Hanya itu.”
Arya sedikit tak percaya. Tapi dia mulai tersenyum. “Kalau dia begitu lagi padamu, katakan padaku. Dia harus diberi pelajaran.”
Aku tertawa keras-keras, tak menyangka Arya memperhatikanku. Tiba-tiba hujan turun dan sudah waktunya aku pulang.
“Aku harus pulang.”
“Akan ku antar.”
“Tidak. Aku bisa pulang sendiri. Bye.” Aku berlari meninggalkannya di tepi danau dan berlari menuju jalanan. Sedikit berlari-lari kecil dibawah rintikan air hujan. Aku senang hari ini banyak yang terjadi. Aku berlari sambil terus tersenyum sampai mobil hitam itu hampir menabrakku.
TRIIIT!!!!
Kulihat mobil itu berhenti tepat di depanku dan aku tau itu mobilnya.
Dia keluar sambil membawa payung untukku.
“Apa kau gila! Ayo masuk!” teriaknya. Aku menurutinya. Walau dalam keadaan basah aku tetap masuk dalam mobil mewah itu.
“Sudah kutebak kau akan kesana.” Aku hanya diam. Tapi sambil tersenyum.
“Kau ikut ke apartemenku.” Katanya. Mobil menjejak dan akhirnya kami tiba di apartemennya.
“Cepat mandi! Dan ambil baju di kamar itu! Kalau kau sakit aku yang susah!” katanya dan aku menurut. Selagi aku mandi dia membuatkan segelas coklat panas untukku. Aku senang sikap baiknya kembali lagi.
Semakin hari semakin aku bisa beradabtasi dengan lingkungannya. Selain mengenal sang menejer aku juga mulai mengenal banyak artis lain yang berada di agency yang sama dengannya. Dan ibu yang terkaget-kaget akan berita-berita di Koran atau pun televisi akhirnya bisa mengerti saat aku menjelaskan semuanya. Aku senang situasi ini. Selain tidak ada lagi penagih hutang yang datang mengganggu kehidupan kami, aku juga bisa serius belajar tanpa harus kerja part time. Semua berkat Junsu. Dia juga sedikit lebih baik sekarang. Kami seperti teman, dan dia tidak akan malu untuk mengkritikku lagi. Dan aku juga begitu. Tidak terasa sebulan berlalu dengan cepat, itu berarti kontrakku dengannya hanya tinggal 2 bulan lagi. Aku dan Arya juga semakin dekat. Tanpa kusadari ternyata Arya tahu kalau aku gak bener-bener pacaran dengan Junsu. Sejak saat itu kami semakin dekat. Dan sekarang aku semakin mencintai Arya. Hari-hari yang tidak kuhabiskan untuk Junsu selalu kuhabiskan dengannya. Mulai dari di sekolah, dan di danau kampus. Aku bahagia tiap kali melihatnya. Dan besok adalah hari ulang tahun Arya ke 25 tahun. Aku ingin memberikan sesuatu untuknya. Tapi aku harus bicara dengan Junsu sebelumnya.
Disini saat Junsu asyik bermain game dan aku duduk disampingnya. Aku masih berpikir, kalau terus begini aku akan kehilangan kesempatan untuk menyatakan cinta pada Arya. Junsu sama sekali gak perduli dengan kerisauanku. Dia masih bener-bener asyik bermain game sekarang.
“Oppa…,” kata-kataku tertahan lagi.
“Kenapa?” katanya jutek.
“Bisa tidak kau berhenti memainkan itu!” aku menunjuk playstationnya. Junsu berpaling dari gamenya ke arahku.
“Ok. Apa?” katanya sedikit terganggu.
“Kau tau kan kalo Arya tau tentang hubungan kita?? Mm… jadi..”
“Jadi kenapa?”
“Aku ingin menyatakan cinta padanya besok. Besok hari ulangtahunnya. Dan aku ingin mengatakan tentang perasaanku padanya.”
Junsu kaget, tapi dia kembali melihat gamenya. “Kau ingat perjanjian kita?”
“Aku tau, tapi ini beda. Dia tahu kalau kita hanya berteman, dan dia juga menjaga rahasia kita dari orang-orang. Jadi…, kumohon izinkan aku..”
“Huh. Kau tau ini bener-bener berat. Kalau sampai paparazzi tau bagaimana aku bisa menjelaskannya?!”
“Kumohon…,”
Junsu menarik nafas panjang dan terlihat berfikir. Aku tau ini sangat beresiko tapi aku gak bisa begini terus.
“Apa kau yakin dia akan menerimamu? Kalau kulihat dia tidak terlihat menyukaimu.” Kata-kata itu membuatku spontan memukulnya.
“Tentu saja dia menyukaiku!” Junsu terlihat meringis saat aku memukul kepalanya. Habis! Bisa-bisanya dia bilang soal itu!
“Ok! Asal kau masih menuruti isi perjanjian kita yang lain. Aku akan mengantarmu besok pagi. Sekarang pergilah dari sini! Aku bosan melihatmu!” sekarang untuk pertama kalinya Junsu melemparku dengan bantal tangan yang dari tadi dipeluknya.
Aku pergi dengan hati lega. Aku harus segera pulang dan membuat kue yang enak untuknya. Jadi gak sabar nih. Besok aku harus bertemu Arya dan mengatakan perasaanku padanya.
Malam ini aku membuat kue coklat dengan sepenuh hati. Kubuat kue itu sesuai dengan petunjuk dari Jaejoong oppa. Aku yakin kuenya pasti enak. Resep ini ditulis Jaejoong oppa secara khusus, aku memohon padanya sampai akhirnya dia mau membagikan ilmunya padaku.
Dalam waktu satu jam kue itu sudah matang dan aku menghiasnya dengan kepingan coklat dan parutan keju. Serta kuletakkan banyak ceri diatasnya. Terlihat cantik. Dan aku cukup puas dengan hasilnya.

0 komentar: