Chapter 10
esoknya semua berjalan seperti biasa. Junsu menjemputku dirumah. semalaman dia menemaniku di danau hingga kulihat pagi ini dia pucat. kurasa dia sakit karena terus menemaniku disana.
"Oppa.., kau baik-baik saja?" tanyaku kaku. kalau diingat-ingat kejadian semalem sangat memalukan. aku dan dia..., oh tuhan tidak! Junsu hanya menghiburku! tidak mungkin lebih dari itu! ayo Arisa sadarlah!
Junsu memperhatikanku lagi dan aku melempar pandangan keluar. aku gak mau dia berfikir macam-macam tentangku. Aku takut dia merasa bersalah atau apa pun itu. Sekarang aku harus ngelupain Arya. Yah…, itulah yang terpenting sekarang. Aku harus lupain dia.
Junsu terus melihatku dan aku bener-bener risih sekarang. “ Oppa please. Jangan liat aku terus? Aku gak kenapa-kenapa jadi cukup melihatku seperti itu! Aku gak suka!”
Dia diam lalu mengalihkan pandangannya padaku. Mobil terus melintasi jalan-jalan yang kini cukup padat. Aku masih diam, berusaha mengartikan perasaan yang kini tiba-tiba menggelayutiku. Aku teringat saat Junsu menciumku semalam. Aku tahu itu hanya untuk menenangkanku. Yah.., aku tau itu tapi aku senang. Entah kenapa tiap kali kuingat hal itu jantungku berdebar gak karuan. Aku takut perasaan ini muncul. Perasaan yang harusnya tidak ada.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah yang aku gak tau ini rumah siapa. Ukurannya berkali-kali lipat dari rumahku. Dan semua sudut di kelilingi para penjaga dengan jas hitam-hitam mereka.
Aku masuk dan Junsu berdiri disampingku. Kami berjalan melewati lorong-lorong dan kulihat para penjaga selalu memberi salam padaku dan Junsu. Sangat ramah, mereka sama sekali tidak sesuai dengan penampilan mereka sekarang.
Akhirnya kami berhenti di depan sebuah pintu mewah yang terbuka. Junsu yang masuk terlebih dahulu lalu aku mengikutinya. Aku terkejut saat kulihat Yurika sedang asyik mengobrol dengan Erika, Hero, Yoochun, dan Yunho.
“Hai,” sapa ku. Mereka menyuruhku duduk. Dan aku duduk disamping junsu.
“Mana Changmin oppa?” tanyaku melihat sepertinya ada yang kurang.
“Dia sedang memesan kue ke dapur. Kau tau kan dia selalu lapar jam segini.” Yurika tertawa dan yang lain ikut tertawa. Aku merasa sedikit canggung.
“Kau kenapa?” Tanya Yurika yang tiba-tiba ambil perhatian padaku. “Matamu bengkak? Apa yang terjadi? Kau pasti menangis semalaman. Apa Junsu oppa melakukan sesuatu padamu?” dia bertanya sambil melempar pandangan menuduh pada Junsu. Aku diam dan cuma menggelengkan kepala. Sedikit pusing itulah yang kurasakan sekarang. Bagaimana tidak, aku menangis semalaman dan hanya tidur beberapa jam saja. Semua kejadian itu terus membangunkanku bagaikan mimpi buruk.
Pertemuan dengan semua teman-teman junsu hari ini terasa cepat. Aku tau Junsu sengaja mempercepat semuanya agar aku bisa pulang dan tidur. Sepulangnya junsu menemaniku ke danau untuk rileks. Aku duduk dalam diam, dan kulihat Junsu hanya melempar-lempar batu ke danau yang terbentang di depan kami. Tanpa bicara, tanpa kata-kata. Aku tau dia menghawatirkanku tapi aku tak mau terlihat begitu menyedihkan di depannya. Lagi pula ada yang kini sedang kupikirkan…..
Aku.., sejak semalam terus teringat kejadian itu. Saat Junsu menciumku. Aku tau itu hanya untuk menghiburku tapi…, jantungku tak bisa berhenti sejak saat itu. Jantungku terus berdetak jauh lebih cepat dari pada biasanya tiap kali Junsu menatapku. Aku tau ini gila dan ini salah! Mana mungkin aku jatuh cinta padanya. Lagi pula aku baru saja disakiti oleh Arya. Apa ini hanya pelampiasan atau pelarian perasaanku? Tidak…, ini tidak. Aku merasakan hal lain disini. Dengan Arya aku merasa aman, tapi disamping Junsu aku merasakan gejolak yang jauh berbeda dari kata ketenangan. Entah mungkin aku sudah gila. Tapi kurasa ada yang berubah dari perasaanku padanya.
Tapi apa iya???????????
Pertanyaan itu terus berulang dalam benakku, hingga kusadari jam sudah menunjukan pukul empat sore. Sudah waktunya aku pulang. Junsu membantuku berdiri. Kakiku keram karena sudah duduk berjam-jam disini. Dia memapahku dan kami berjalan menjauhi danau. Pelan-pelan dia memapahku dan kurasakan jantungku hampir berhenti saat kutatap lekat-lekat wajahnya. Dia…, tampan. Bahkan sangat tampan! Oh tuhan kemana saja aku selama ini!!!!!!!!!!
Tiba-tiba orang yang paling tidak ingin kulihat mendekati kami berdua sambil berlari. Arya berlari sambil membawa mantel ditangannya. Aku memegang erat lengan Junsu dan Junsu tau apa yang harus dilakukannya.
“Mau apa kau?” Tanya Junsu galak.
“Bukan urusanmu! Arisa, kau kemana saja. Aku mencarimu di kampus tapi mereka bilang kau bolos kelas hari ini. Ada apa denganmu? Tak biasanya kau…” kata-katanya terhenti saat melihat mataku yang sudah hitam dan bengkak. “Kau baik-baik saja?” sambungnya.
“Lupakan Arya. Jangan sok memperdulikanku. Tolong, aku ingin pulang.” Junsu menatapnya galak, dan Arya tertegun mendengar perkataanku. Aku masuk ke dalam mobilnya dan Junsu membawaku pulang.
esoknya semua berjalan seperti biasa. Junsu menjemputku dirumah. semalaman dia menemaniku di danau hingga kulihat pagi ini dia pucat. kurasa dia sakit karena terus menemaniku disana.
"Oppa.., kau baik-baik saja?" tanyaku kaku. kalau diingat-ingat kejadian semalem sangat memalukan. aku dan dia..., oh tuhan tidak! Junsu hanya menghiburku! tidak mungkin lebih dari itu! ayo Arisa sadarlah!
Junsu memperhatikanku lagi dan aku melempar pandangan keluar. aku gak mau dia berfikir macam-macam tentangku. Aku takut dia merasa bersalah atau apa pun itu. Sekarang aku harus ngelupain Arya. Yah…, itulah yang terpenting sekarang. Aku harus lupain dia.
Junsu terus melihatku dan aku bener-bener risih sekarang. “ Oppa please. Jangan liat aku terus? Aku gak kenapa-kenapa jadi cukup melihatku seperti itu! Aku gak suka!”
Dia diam lalu mengalihkan pandangannya padaku. Mobil terus melintasi jalan-jalan yang kini cukup padat. Aku masih diam, berusaha mengartikan perasaan yang kini tiba-tiba menggelayutiku. Aku teringat saat Junsu menciumku semalam. Aku tahu itu hanya untuk menenangkanku. Yah.., aku tau itu tapi aku senang. Entah kenapa tiap kali kuingat hal itu jantungku berdebar gak karuan. Aku takut perasaan ini muncul. Perasaan yang harusnya tidak ada.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah yang aku gak tau ini rumah siapa. Ukurannya berkali-kali lipat dari rumahku. Dan semua sudut di kelilingi para penjaga dengan jas hitam-hitam mereka.
Aku masuk dan Junsu berdiri disampingku. Kami berjalan melewati lorong-lorong dan kulihat para penjaga selalu memberi salam padaku dan Junsu. Sangat ramah, mereka sama sekali tidak sesuai dengan penampilan mereka sekarang.
Akhirnya kami berhenti di depan sebuah pintu mewah yang terbuka. Junsu yang masuk terlebih dahulu lalu aku mengikutinya. Aku terkejut saat kulihat Yurika sedang asyik mengobrol dengan Erika, Hero, Yoochun, dan Yunho.
“Hai,” sapa ku. Mereka menyuruhku duduk. Dan aku duduk disamping junsu.
“Mana Changmin oppa?” tanyaku melihat sepertinya ada yang kurang.
“Dia sedang memesan kue ke dapur. Kau tau kan dia selalu lapar jam segini.” Yurika tertawa dan yang lain ikut tertawa. Aku merasa sedikit canggung.
“Kau kenapa?” Tanya Yurika yang tiba-tiba ambil perhatian padaku. “Matamu bengkak? Apa yang terjadi? Kau pasti menangis semalaman. Apa Junsu oppa melakukan sesuatu padamu?” dia bertanya sambil melempar pandangan menuduh pada Junsu. Aku diam dan cuma menggelengkan kepala. Sedikit pusing itulah yang kurasakan sekarang. Bagaimana tidak, aku menangis semalaman dan hanya tidur beberapa jam saja. Semua kejadian itu terus membangunkanku bagaikan mimpi buruk.
Pertemuan dengan semua teman-teman junsu hari ini terasa cepat. Aku tau Junsu sengaja mempercepat semuanya agar aku bisa pulang dan tidur. Sepulangnya junsu menemaniku ke danau untuk rileks. Aku duduk dalam diam, dan kulihat Junsu hanya melempar-lempar batu ke danau yang terbentang di depan kami. Tanpa bicara, tanpa kata-kata. Aku tau dia menghawatirkanku tapi aku tak mau terlihat begitu menyedihkan di depannya. Lagi pula ada yang kini sedang kupikirkan…..
Aku.., sejak semalam terus teringat kejadian itu. Saat Junsu menciumku. Aku tau itu hanya untuk menghiburku tapi…, jantungku tak bisa berhenti sejak saat itu. Jantungku terus berdetak jauh lebih cepat dari pada biasanya tiap kali Junsu menatapku. Aku tau ini gila dan ini salah! Mana mungkin aku jatuh cinta padanya. Lagi pula aku baru saja disakiti oleh Arya. Apa ini hanya pelampiasan atau pelarian perasaanku? Tidak…, ini tidak. Aku merasakan hal lain disini. Dengan Arya aku merasa aman, tapi disamping Junsu aku merasakan gejolak yang jauh berbeda dari kata ketenangan. Entah mungkin aku sudah gila. Tapi kurasa ada yang berubah dari perasaanku padanya.
Tapi apa iya???????????
Pertanyaan itu terus berulang dalam benakku, hingga kusadari jam sudah menunjukan pukul empat sore. Sudah waktunya aku pulang. Junsu membantuku berdiri. Kakiku keram karena sudah duduk berjam-jam disini. Dia memapahku dan kami berjalan menjauhi danau. Pelan-pelan dia memapahku dan kurasakan jantungku hampir berhenti saat kutatap lekat-lekat wajahnya. Dia…, tampan. Bahkan sangat tampan! Oh tuhan kemana saja aku selama ini!!!!!!!!!!
Tiba-tiba orang yang paling tidak ingin kulihat mendekati kami berdua sambil berlari. Arya berlari sambil membawa mantel ditangannya. Aku memegang erat lengan Junsu dan Junsu tau apa yang harus dilakukannya.
“Mau apa kau?” Tanya Junsu galak.
“Bukan urusanmu! Arisa, kau kemana saja. Aku mencarimu di kampus tapi mereka bilang kau bolos kelas hari ini. Ada apa denganmu? Tak biasanya kau…” kata-katanya terhenti saat melihat mataku yang sudah hitam dan bengkak. “Kau baik-baik saja?” sambungnya.
“Lupakan Arya. Jangan sok memperdulikanku. Tolong, aku ingin pulang.” Junsu menatapnya galak, dan Arya tertegun mendengar perkataanku. Aku masuk ke dalam mobilnya dan Junsu membawaku pulang.





0 komentar:
Posting Komentar