Minggu, 05 September 2010

LAst Angel 7

Chapter 7
Hari ini Junsu tiba-tiba datang dan mengagetkanku. Aku sedang asyik bermain dengan Arya dan siswa-siswa lainnya di sekolah. Kehadiran Junsu bukan hanya mengagetkanku tapi juga mengagetkan semua orang yang ada disana. Terutama ibu-ibu yang asyik bergosip ria di taman.
“Kau sedang apa!” teriaknya padaku. Aku kaget jelas. Tapi aku berusaha tidak memperdulikannya dan terus bermain bersama anak-anak. Arya terlihat canggung tapi aku berusaha meyakinkannya untuk tidak perlu memperdulikan kehadiran sang tamu yang tak di undang.
“Kau sedang apa disini! Aku menelponmu sampai 15 kali dan kau tidak menerimanya!” aku sadar aku melupakan posel yang ku silent. Aku membuka tasku dan melihat ada 15 kali panggilan tak terjawab dan semuanya dari Junsu.
“Maaf aku lupa mengaktifkan suaranya. Apa maumu?” kataku malas.
“Ikut denganku sekarang! Aku butuh kau! Sebentar lagi Yurika akan mengamuk kalau kita tidak datang ke ulangtahunnya.”
“Pesta lagi?” kataku kaget.
“Tidak. Dia hanya mengundang kita untuk makan bersama. Semua sudah berkumpul dan kau sedang asyik bermain dengan mereka! Kau ingat kan kata-kataku!” Junsu terlihat sangat marah. Aku berusaha tenang dan tidak emosi untuk membalas semua kata-katanya nih orang kenapa sih! Dari tadi kerjaannya marah-marah mulu!
“Arya, aku harus pergi.” Kataku sambil melepaskan pegangan tangan anak-anak yang bergerombol mendekatiku.
Arya menhanku. Tepat saat Junsu menarik tanganku. Arya menarik tangaku yang satunya dan sekarang tanganku terasa berdenyut saat mereka berdua menariknya dengan keras. “Apa maumu?” Tanya Arya tiba-tiba. Junsu terlihat marah tapi tetap menatapku tajam. Aku tau ini salah. Aku tau ini salahku. Harusnya aku datang saat dia memanggilku.
“Dia tak harus pergi kalau dia tak mau.” Kata-kata Arya membuatku terpesona. Aku tau sekarang dia sedang melindungiku. Dan jujur saja aku senang bahkan sangat!
“Arisa…,” kata Junsu tiba-tiba. Pandanganku teralih dari Arya kearahnya. “Apa temanmu ini tidak tau kalau kau milikku.” Waduh! Nih orang kok bisa-bisanya ngomong begitu di depan Arya. Bisa mati berdiri nih!
“Apa kau pikir aku tidak tau permainan yang kalian lakukan. Dia bukan milikmu! Dan tidak akan jadi milik mu! Kau ingat itu!”
Junsu kaget saat dia sadar kalau Arya tau hubungan kami yang sebenernya. Sebenernya bukan cuma dia, aku juga kaget banget. How can?
“Bagaimana kau tahu? Apa dia memberitahu mu?” kata Junsu makin galak. Aku meringis saat pegangan Junsu makin kuat di lengan kananku yang memerah. “Apa kau yang memberitahunya?”
Aku menggeleng-geleng bego. Aku jelas gak tau!
“Jangan salahkan dia. Kau pikir semua orang bisa kau tipu. Aku bisa liat kalau kau hanya memanfaatkan Arisa.”
Aku dan Junsu menatap Arya bersamaan. Semua ini membuatku bingung. Aku tau sudah waktunya ini diakhiri. Aku berusaha melepaskan cengkraman Arya pada tangan kiriku.
“Sudahlah, aku harus ikut dia. Aku akan baik-baik saja. Ok!” kataku meyakinkan Arya yang sedikit cemas.
“Kau yakin?” aku hanya tersenyum dan Junsu menarikku masuk ke mobilnya.
“Kau mau mematahkan tanganku!!” teriakku padanya.
“Sudahlah. Aku akan melupakan semua kejadian hari ini. Kau ingat lain kali kau harus menerima panggilanku! Yurika pasti akan memarahiku karena kau!”
Aku diam lagi dan sedikit memutar-mutar pergelangan tanganku yang nyut-nyutan. Dia bener-bener dah udah mau patah nih! Sakit lagi!
Ternyata benar, anak-anak lain sedang menunggu kami. Kulihat tak ada Erika disana dan kulihar Hero oppa terlihat kesal.
“Ada apa?” kataku saat Yurika terlihat tak bersemangat seperti biasanya. “Erika tak bisa datang. Dia masih di Amerika. Sedang kuliah. Dan Jaejoong oppa terlihat jengkel.” Yurika menunjuknya dan dia mulai berkilah lagi. “Siapa yang jengkel. Aku hanya…”
“Memangnya mereka sudah berhubungan?” tanyaku pada Yurika.
“Tidak, mereka tidak berkembang. Erika sibuk kuliah disana dan Jaejoong oppa sibuk disini. Sekarang mereka hanya berteman tapi kami tau mereka saling suka.”
Junsu tiba-tiba menarik tanganku yang merah.
“Sudah tidak apa-apa?” aku kaget, kok nih orang tiba-tiba sok peduli.
“Tanganmu kenapa?” Tanya Changmin oppa yang kaget melihat tanganku yang semerah apel!
“Tidak…, hanya..” aku menatap Junsu yang sedang mengolesi obat pada tanganku yang sedikit lebam.
“Sudahlah.., aku tidak apa-apa.”
Semua mulai tenang dan berangsur melupakan lukaku. Kecuali Junsu yang kulihat matanya terus tertuju pada lenganku. Aku tau dia merasa bersalah, dan itu memang harus!
Acara makan-makan itu tidak lama tapi cukup menyenangkan. Semua makan dengan senang sambil sedikit bercerita tentang aktifitas mereka.
Tiba-tiba aku ingin pulang. Lebih tepatnya aku ingin ke sekolah dan menjelaskan semuanya pada Arya dan aku tak tau harus bilang apa pada yang lainnya.
“Kau kenapa diam saja?” kata junsu tiba-tiba.
“Boleh aku pulang?” yang lain langsung memberi perhatian padaku. “Kau kenapa? Apa masih sakit?” junsu melihat tanganklu yang sedikit membaik.
“Tidak…., aku hanya lelah dan ingin pulang.”
“Aku akan mengantarmu.” Kata Junsu yang sudah berdiri.
“Aku bisa pulang sendiri.” Aku mengambil mantel yang ku kaitkan di kursiku. Yang lain hanya menoleh kearahku sampai aku menghilang.
Aku berlari dari restaurant ini dan mencari taksi.

0 komentar: