Chapter 20
Dios sudah berdiri di depanku dengan sebuket bunga berwarna-warni. Aku kaget pastinya tapi dia segera menghapus kekagetan pertamaku dengan kekagetan kedua yang kudapatkan. “Kau..., mau kah kau bersamaku? Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu.”
Kata-katanya membuatku diam sejenak. Sedikit berpikir dan mulai mencerna semuanya. Aku tutup mataku perlahan dan Dios tertawa melihat ekspresiku.......
“Tak perlu menjawabnya sekarang.” Katanya sambil tertawa riang. “Akan kutagih jawabanmu nanti, sekarang kau harus menemaniku menjemput teman-teman lamaku. Mereka pasti hampir tiba di bandara. Kita harus cepat.”
Aku duduk di jok belakang bersama Dios yang tak henti-hantinya melihat ke arah jam tangannya. Siapa sih orang yang begitu penting ini? Aku bingung. Selama ini Dios tak pernah terlihat begitu semangat seperti sekarang. Apa orang ini special? Apa sangat special dimatanya??? Aku gak tau tapi yang jelas orang ini bukan orang biasa.
Mobil dengan segera berhenti di depan bandara. Dios berlari dan terus memegang tanganku. Kami berlari ke dalam dan sesuatu yang tak kuharapkan terjadi. Aku berhenti berlari seketika saat Dios berteriak memanggil namanya. Aku diam. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Mereka sudah saling berbicara saat salah satu dari mereka terkejut melihatku.
“Arisa!” teriak gadis itu melihatku. Aku hampir pingsan saat kulihat gadis itu sadar akan kedatanganku.
“Yurika.....” kata-kataku terhenti. Ada Hero, Max, Micky, YUnho, Erika, dan juga JUnsu disana. Mereka kaget melihatku, terutama Junsu yang terlihat paling shock dibanding yang lainnya. Dios tertawa mel.ihat ekspresi kami semua. Suasana tiba-tiba berubah aku bingung. Aku ingin berlari tapi tak bisa. Aku ingin berlari dan memeluk Junsu yang berdirti tak jauh dari tempatku. Sudah lama. Sudah lama aku tidak melihatnya dan sekarang dia berdiri terpaku di depanku. Aku diam dan Dios mendekat ke arahku.
“Arisa...” kata-kata Junsu seakan tergantung. Dios merangkulkan tangannya di bahuku. Aku berusaha tersenyum tapi tak bisa. Semuanya begitu sulit untukku.
“Kalian sudah saling kenal ternyata. Arisa ini teman-teman terbaikku. Kau pasti kenal mereka.” Aku hanya mengangguk. Semua masih kaget saat Dios bertanya lagi.
“Bagaimana kalian bisa mengenal Arisa?” tanyanya bego.
“Kami teman lama.” Kata Yurika yang seakan mengerti situasi ini. Semua tertawa dan mulai kembali ke mobil yang tadi mengantar kami ke bandara. Dios bilang mereka akan menginap dirumahnya untuk beberapa hari. Dan ini artinya Junsu akan sering bertemu denganku beberapa hari ini. Aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Semua ini begitu tiba-tiba. Aku gak tau mesti gimana lagi sekarang?
Esoknya.....
“Kau baik-baik saja?” tanya Dios yang tiba-tiba menghampiriku. “kau pucat.”
“Aku baik. Jangan khawatir. Hanya saja aku...”
“Sudahlah. Kalau kau tidak sehat aku akan mengantarmu pulang.” Dios sudah mengambil tasnya dari atas meja saat aku menghentikannya. “Aku bisa pulang sendiri.” Kataku. Aku mengambil tasku dan meninggalkannya di kelas yang kini ramai oleh para mahasiswa yang bercerita tentang liburan mereka. Aku berlari melewati koridor. Berjalan cepat di kurumunan orang yang berlalu lalang, dan akhirnya aku memasuki lingkungan taman belakang kampusku.
“Kami mencarimu,” kata seseorang yang tiba-tiba menepuk pundakku. Yurika dan Erika berdiri di belakangku. Aku menoleh kearah mereka dan Yurika langsung memelukku.
“Apa yang kau lakukan! Kenapa kau pergi begitu saja. Kau tau bagaimana kedaan Junsu Oppa saat kau pergi.”
Dengan pelan kulepaskan pelukkannya dan kutatapi Yurika dengan serius.
“Kau tau, aku dan Junsu bukan....”
“Aku tau. Kami tau semuanya. Junsu oppa menceritakan semuanya saat kau pergi. Kau tau kami benar-benar tak percaya saat itu.”
“Ok. Baguslah kalau kalian sudah tau semuanya. Jadi sudah jelaskan. Aku udah gak ada hubungan apa pun dengan Junsu oppa. Jadi tolong jangan ungkit ini lagi.”
“Bohong!” teriak erika padaku.
“Kalian berdua jangan bohong! Semua orang bisa melihat kalau kau mencintainya! Dan Junsu oppa juga...”
“tidak..., tidak Yurika..., hanya kau. Hanya kau dihatinya.”
“Jangan bodoh.” Teriak Yurika padaku. Kami bertiga diam. Perdebatan ini membuat kami benar-benar tidak nyaman. Kami hanya diam. Saling pandang dan suara itu mengujutkan kami bertiga.
Dios sudah berdiri di depanku dengan sebuket bunga berwarna-warni. Aku kaget pastinya tapi dia segera menghapus kekagetan pertamaku dengan kekagetan kedua yang kudapatkan. “Kau..., mau kah kau bersamaku? Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu.”
Kata-katanya membuatku diam sejenak. Sedikit berpikir dan mulai mencerna semuanya. Aku tutup mataku perlahan dan Dios tertawa melihat ekspresiku.......
“Tak perlu menjawabnya sekarang.” Katanya sambil tertawa riang. “Akan kutagih jawabanmu nanti, sekarang kau harus menemaniku menjemput teman-teman lamaku. Mereka pasti hampir tiba di bandara. Kita harus cepat.”
Aku duduk di jok belakang bersama Dios yang tak henti-hantinya melihat ke arah jam tangannya. Siapa sih orang yang begitu penting ini? Aku bingung. Selama ini Dios tak pernah terlihat begitu semangat seperti sekarang. Apa orang ini special? Apa sangat special dimatanya??? Aku gak tau tapi yang jelas orang ini bukan orang biasa.
Mobil dengan segera berhenti di depan bandara. Dios berlari dan terus memegang tanganku. Kami berlari ke dalam dan sesuatu yang tak kuharapkan terjadi. Aku berhenti berlari seketika saat Dios berteriak memanggil namanya. Aku diam. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Mereka sudah saling berbicara saat salah satu dari mereka terkejut melihatku.
“Arisa!” teriak gadis itu melihatku. Aku hampir pingsan saat kulihat gadis itu sadar akan kedatanganku.
“Yurika.....” kata-kataku terhenti. Ada Hero, Max, Micky, YUnho, Erika, dan juga JUnsu disana. Mereka kaget melihatku, terutama Junsu yang terlihat paling shock dibanding yang lainnya. Dios tertawa mel.ihat ekspresi kami semua. Suasana tiba-tiba berubah aku bingung. Aku ingin berlari tapi tak bisa. Aku ingin berlari dan memeluk Junsu yang berdirti tak jauh dari tempatku. Sudah lama. Sudah lama aku tidak melihatnya dan sekarang dia berdiri terpaku di depanku. Aku diam dan Dios mendekat ke arahku.
“Arisa...” kata-kata Junsu seakan tergantung. Dios merangkulkan tangannya di bahuku. Aku berusaha tersenyum tapi tak bisa. Semuanya begitu sulit untukku.
“Kalian sudah saling kenal ternyata. Arisa ini teman-teman terbaikku. Kau pasti kenal mereka.” Aku hanya mengangguk. Semua masih kaget saat Dios bertanya lagi.
“Bagaimana kalian bisa mengenal Arisa?” tanyanya bego.
“Kami teman lama.” Kata Yurika yang seakan mengerti situasi ini. Semua tertawa dan mulai kembali ke mobil yang tadi mengantar kami ke bandara. Dios bilang mereka akan menginap dirumahnya untuk beberapa hari. Dan ini artinya Junsu akan sering bertemu denganku beberapa hari ini. Aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Semua ini begitu tiba-tiba. Aku gak tau mesti gimana lagi sekarang?
Esoknya.....
“Kau baik-baik saja?” tanya Dios yang tiba-tiba menghampiriku. “kau pucat.”
“Aku baik. Jangan khawatir. Hanya saja aku...”
“Sudahlah. Kalau kau tidak sehat aku akan mengantarmu pulang.” Dios sudah mengambil tasnya dari atas meja saat aku menghentikannya. “Aku bisa pulang sendiri.” Kataku. Aku mengambil tasku dan meninggalkannya di kelas yang kini ramai oleh para mahasiswa yang bercerita tentang liburan mereka. Aku berlari melewati koridor. Berjalan cepat di kurumunan orang yang berlalu lalang, dan akhirnya aku memasuki lingkungan taman belakang kampusku.
“Kami mencarimu,” kata seseorang yang tiba-tiba menepuk pundakku. Yurika dan Erika berdiri di belakangku. Aku menoleh kearah mereka dan Yurika langsung memelukku.
“Apa yang kau lakukan! Kenapa kau pergi begitu saja. Kau tau bagaimana kedaan Junsu Oppa saat kau pergi.”
Dengan pelan kulepaskan pelukkannya dan kutatapi Yurika dengan serius.
“Kau tau, aku dan Junsu bukan....”
“Aku tau. Kami tau semuanya. Junsu oppa menceritakan semuanya saat kau pergi. Kau tau kami benar-benar tak percaya saat itu.”
“Ok. Baguslah kalau kalian sudah tau semuanya. Jadi sudah jelaskan. Aku udah gak ada hubungan apa pun dengan Junsu oppa. Jadi tolong jangan ungkit ini lagi.”
“Bohong!” teriak erika padaku.
“Kalian berdua jangan bohong! Semua orang bisa melihat kalau kau mencintainya! Dan Junsu oppa juga...”
“tidak..., tidak Yurika..., hanya kau. Hanya kau dihatinya.”
“Jangan bodoh.” Teriak Yurika padaku. Kami bertiga diam. Perdebatan ini membuat kami benar-benar tidak nyaman. Kami hanya diam. Saling pandang dan suara itu mengujutkan kami bertiga.





0 komentar:
Posting Komentar