Minggu, 05 September 2010

Last Angel 19

Chapter 19
Malam ini malam yang jauh berbeda dengan malam-malam yang biasanya kulewatkan di Korea. Kini aku berdiri di kamar baruku. Aku tau Jepang memang jauh berbeda dengan Korea. Tapi….
Kenyataan bahwa Arya dan aku adalah saudara dan kenyataan bahwa aku adalah salah satu dari anak pengusaha terkenal di Jepang membuatku gila. Benar saja! Selama ini aku hanya tau bagaimana caranya agar aku bisa membayar hutang-hutang ayahku.
Aku sekarang berdiri dikamar yang mungkin pernah kutempati bertahun-tahun lalu. Kulihat foto-foto masa kecilku dengan Arya dan kedua orangtuaku. Aku ingin menangis, sungguh. Kurasa kembali ke kehidupanku inilah jalan yang paling baik agar aku bisa melupakannya. Dia…, akan kulupakan. Harus.
Esoknya…
“Kau akan kuliah pagi ini,” kata Arya oppa mengagetkanku saat sarapan pagi.
“Maksud oppa?”
“Aku sudah mendaftarkanmu di salah satu Universitas bagus di Jepang. Kau mungkin akan kesulitan berbicara dengan orang-orang disana tapi oppa telah mengghunbungi teman lama yang juga akan satu kampus denganmu. Dia orang korea. Jadi dia bisa membantumu disana.”
Aku diam saja, berharap semua akan berjalan lancer pagi ini.
“Baik, aku harus pergi ke kantor. Pengacara Lee sudah menyiapkan penyambutan untukku di perusahaan. Kau akan diantar sopir pribadimu. Bersiaplah. Dan oppa minta jangan sia-siakan masa kuliahmu dnegan memikirkan laki-laki itu lagi!” dia mencium pipiku dan mengusap kepalaku. Aku hanya mengangguk. Agak canggung karena aku sadar sebelumnya aku pernah menyukainya.
Aku mengambil tasku dan berlari menuju mobil yang akan mengantarku ke kampus baruku. Aku masuk dan mobil menjejak dengan cepat. Sepanjang jalan aku bisa merasakan suasana yang jauh berbeda. Ini hari pertama aku kuliah lagi dan kuharap semua lancar.
Mobil berhenti di depan sebuah kampus terbesar yang pernah kulihat. Seseorang membukakan pintuku. Dia tersenyum dan aku hanya membalasnya. Laki-laki ini tampan. Dia tinggi dan terlihat baik. Apa dia oang yang dimaksud oppa?
“Aku Dios. Arya sudah bercerita banyak tentangmu.” Katanya ramah. Aku terpesona pada gayanya yang maskulin dan begitu berbeda dengan laki-laki lainnya.
“Aku akan membantumu selama kau disini. Jadi.., kita berteman?” katanya sambil mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya sambil tersenyum. Dios baik, itulah kesan pertamaku padanya. Dia tampan dan tinggi. Seperti...., kata-kataku terhenti lagi saat tiba-tiba terlintas bayangan Junsu di otakku. Spontan aku memukul kepalaku dan Dios kaget. “Kau kenapa?” katanya khawatir.
“Ha? Mm... aku gak kenapa-napa.” Aku tersenyum dan Dios membalas senyumanku dengan manis. Yah..., semua masa laluku perlahan-lahan mulai kulupakan seiring berjalannya waktu yang kulalui bersama Dios. Sejak pertemuan ini kami jadi lebih akrab. Setiap hari kami bertemu di kampus dan menghabiskan waktu berdua. Semua mahasiswa dan mahasiswi di kampusku cukup ramah. Mereka sangat jauh berbeda dengan teman-temanku dulu. Tapi aku merasa betah. Sedikit demi sedikit aku merasa semakin nyaman berada di samping Dios. Arya oppa senang melihat kami jadi sahabat dan terkadang oppa ku itu sering membahas hubunganku dan Dios dan pada saat itu juga selalu ku tekankan bahwa kami hanya berteman.
Oppa ku ini sangat berharap aku bisa bersama dengan Dios, tapi itu gak mungkin. Dan tak kan pernah mungkin. Sejauh ini kami hanya berteman tidak lebih. Semua berjalan mulus sesuai yang kuharapkan.
Dua bulan sudah aku menetap di Jepang dan tanpa pernah tahu kabar Junsu dan yang lainnya. Terkadang aku hanya membaca artikel mereka di Majalah. Aku tahu sedikit dmei sedikit bayangan Junsu perlahan-lahan menghilang dari bayanganku. Dan Dios pun perlahan-lahan semakin dekat denganku.
Dan saat ini sambil ditemani segelas coklat panas aku menunggunya. Dios mengajak ku jalan-jalan hari ini. Yah, sedikit aneh tapi sudah lama aku tidak rekreasi. Jadi kenapa aku harus menolak. Cukup lama aku menunggu hingga akhirnya kulihat dia melambai padaku dari kejauhan. Aku membayar bill coklat panasku dan berlari ke arahnya. Angin musim dingin berhembus ke arahku tapi aku tetap merasa hangat karena mantel ini melindungiku. Dia merapikan rambutku yang sedikit basah karena titikan salju dan tertawa. Hangat. Tiap kali dia tersenyum padaku. Itulah yang selalu kurasakan. Dia merangkul tanganku dan membawaku pergi.
Siang ini kami pergi ke Fujimi untuk bermain ski. Fujimi tepatnya di Nagano, kami pergi ke Fujimi station, dari situ ada bus yang menghantarkan kami ke area ski gratis, tapi jam tertentu, sebelum jam 10 saat berangkat. Dan pulang juga ada bus gratis jam 3 lebih 10 menit. Hanya sekitar 2 bus saat berangkat dan pulang ke fujimi station. Permainan ini paling di gandrungi dan aku yakin hari ini pasti akan sangat ramai. Setibanya disana. Dios memberiku peralatan ski. Awalnya aku sangsi tapi dia terus mendesakku hingga akhirnya aku berdiri di atas papan ski dengan kaca mata ski yang menutupi mataku. Dios berski ria di hadapanku aku berusaha mencoba dan ternyata tidak sesulit yang kuduga. Ini cukup mudah dan tentu saja mengasyikkan. Sempat beberapa kali aku terjatuh tapi ini tak masalah. Aku senang dan Dios terlihat jauh lebih riang dari biasanya. Nuansa tempat ini berbeda dari tempat-tempat lainnya. Banyak orang yang bahagia dan terhibur disini. Smeua tertawa gembira dan bisa kurasakan kehangatan kebahagiaan yang terpancar dari tiap air muka mereka. Senang itulah gambaran yang bisa terlihat dari air mukaku. Semua ini tak pernah kubayangkan sebelumnya. Yah..., inilah jalan yang tuhan berikan untukku. Junsu adalah seseorang yang selalu ada dihatiku tapi bukan berarti aku harus berlarut-larut memikirkannya.
Dios ada disini. Kami teman, teman yang baik tentunya. Aku banyak bercerita tentang diriku padanya terutama seseorang yang selalu kucintai hingga detik ini. Dios tau aku mencintai seseorang. Tiap kali Dios menanyakan siapa orang yang telah merebut hatiku aku hanya bisa tersenyum tanpa menjawab apa pun padanya. Jika Dios tahui aku mencintai seorang artis terkenal dia hanya akan menertawakanku. Jadi lebih baik aku diam.
Aku lelah. Dan berusaha menepi dari keramaian. Kulihat Dios menghilang. Aku tahu dia kemana, paling-paling asyik main bersama anak-anak yang berkumpul diujung sana. Aku duduk di tepi dan melepaskan kaca mata skiku. Berusaha menarik nafas dalam-dalam dan sesuatu mengagetkanku.

0 komentar: