Minggu, 05 September 2010

LAst Angel 18

Chapter 18
Semalam akumenghabiskan waktuku untuk menuggunya dan pada akhirnya dia meninggalkanku begitu saja. Kini aku berusaha bangun dari tempat tidurku dan aku sadar akalu aku masih memakai kemejanya.
Kudengar suara-suara dibawah terdengar kurang biasa. Aku menarik mantelku dan berlari meunju ruang keluarga.
“Ibu ada apa?” kataku dan terkejut saat kulihat ada paling tidak empat orang berjas dan Arya duduk disamping ibu.
“Ada apa ini? Arya kenapa kau??” kataku bingung.
“Selamat pagi nona.” Kata salah satu dari mereka.
Nona? Maksudnya apa sih mereka?
“Arya apa yang terjadi?”
“Ternyata nona sudah menganal tuan Arya?” katanya senang. Laki-laki tua ini terlihat ramah tapi aku tetap bersikap tak peduli padanya.
“Apa nona tau kalau tuan muda Arya adalah saudara nona satu-satunya?”
Ha?? Arya??? Apa maksud laki-laki ini.
“Sudahlah, aku bener-bener gak ngerti. Tolong jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?”
“Nona dan Tuan Arya adalah anak dari majikan kami. Kalian berdua adalah anak yang dulu sempat diculik oleh para mafia di Jepang. Kami sudah lama mencari tuan dan nona Arisa. Kami berhasil menemukan tuan muda Arya dua tahun lalu. Dan kini kami berhasil menemukan Nona Arisa. Tuan dan Nyonya pasti akan senang. Kalau saja mereka…” kata-kata itu terhenti
“Apa maksud anda tuan? Jadi aku dan Arya??? Kami saudara? Itu maksud anda? Dan… dan kenapa dengan orangtua kami???” kataku mnuntut.
Arya berdiri dan mulai menenangkanku saat aku mulai emosi lagi. “Orangtua kita meninggal dunia 18 tahun lalu saat mencarimu. Mereka mendapat kabar kalau kau ada disini dan mereka mengalami kecelakaan. Arisa kau harus dengarkan aku, aku oppa mu dan …”
“Gak! Gak mungkin mana mungkin ini bisa terjadi! Kalian pasti salah!” teriakku.
“Kmai memiliki bukti ini nona, kata salah satu dari mereka lagi. Dan kami yakin kaulah Nona Arisa yang kami cari.”
Arya menghapus air mataku yang kini mengalir. Dia terus menenangkanku tapi aku tetap tak bisa tenang!
“Arya… ap aini benar?”
Arya hanya mengangguk dan aku memeluknya. “Kenapa kau tidak mencari dari dulu!” teriakku marah. Ibu tersenyum dan menangis melihatku. Aku terus memeluk Arya. Ternyata perasaan nyaman yang selama ini kurasakan padanya Karena dia adalah Oppa ku.
“Kau akan ikut dneganku pulang ke Jepang. Ibumu telah mengizinkanku membawamu pulang.”
Aku melihat kearah ibu yang tersenyum. Aku menangis lagi dan lagi dalam pelukan oppaku.
Saat Arya dan lainnya pulang aku langsung berlari ke kamarku. Mereka akan menjemputku sore ini. Kami akan pergi ke Jepang. Yah.., aku akan ke Jepang! Aku akan meninggalkan semua kenanganku disini, terutama akan Junsu!
Saat aku merapikan barang-barangku, Ibu memelukku tiba-tiba dan menangis. “Maafkan Ibu…, selama ini kau lah yang menanggung beban keluarga. Sekarang kau harus bisa hidup bahagia.”
Aku memeluk ibu ku lagi. Aku tau ini berat tapi aku harus pergi. “Aku sayang ibu. Aku janji kalau aku akan sering pulang.” Kataku.
Sore harinya aku dibawa ke bandara. Arya duduk disampingku dan terus memegang tanganku. Saat kami melewati danau sekolah aku ingin turun. Arya menizinkanku turun untuk bberapa menit. Lama kulihat air danau yang tenang sampai kulihat seseorang mendekat kearah kami.
“Kemana kau semalam!” kata Junsu. Dia menarikku tapi aku melepaskan peganngannya.
“Jangan ganggu dia.” Kat aArya tenang.
“Apa urusanmu!” kata Junsu tak perduli dia terus menatapku.
“Aku oppa nya! Jadi aku berhak melarangmu mendekati adikku!” tegas Arya lagi. Junsu kaget mendengarnya tapi sebelum dia menarikku aku memukulnya sekeras yang kubisa. Melampiaskan rasa sakitku lagi. “Kau pergilah! Aku tidak akan mengganggumu lagi1 perjanjian kontrak kita berakhir dan kau lah yang memilihnya! Pergilah!” teriakku. Dan aku menarik Arya bersamaku. Kami menaiki mobil dan berangkat menuju bandara.
Setelah check in semua terasa berbeda. Ada rasa lega melanda hatiku. Akhirnya aku bisa pergi. Aku bisa melupakan semuanya. Semua yang terjadi perlahan-lahan akan kulupakan. Terutama dia….
Aku duduk disamping Arya oppa yang terus memegang tanganku. Berusaha menguatkan meyakinkanku akan keputusanku ikut dengannya. Aku masih terus melihat daratan korea yang luas dari atas sini. Terasa berbeda dan sangat jauh dari diriku sekarang. Junsu.., kuharap kau bisa bahagia…, aku akan melupakanmu. Aku janji! Tanpa snegaja air mataku mengalir lagi dan Arya oppa segera menghapusnya. “Lupakan dia.” Pintanya padaku. Aku hanya mengangguk dan Arya benar. Aku harus melupakannya karena itulah yang terbaik.

0 komentar: