Chapter 16
Hari-hari berlalu lebih cepat dari biasanya. Tak terasa waktuku bersama dnegan Junsu akan berakhir besok. Semua yang terjadi dalam 3 bulan terakhir membuatku gila! Kenyataan akan keluarga dan semuanya membuatku semakin dewasa. Besok adalah hari perpisahanku dan hari ulangtahunku. Aku ingin hari itu menjadi hari terbaik bagiku, tapi apa bisa?
Malam ini aku tidur lebih cepat dari biasanya dan berusaha untuk memimpikan hal-hal indah yangmungkin terjadi besok. Dalam tidur pun aku ingin terus bersamanya.
Paginya….
Aku mengirim pesan singkat ke ponselnya Junsu yang berisi,
Oppa.., hari ini hari terakhir kontrak kita. Aku senang karena telah mengenalmu dan aku mau hari terakhir ini kau bersamaku. Apa bisa? Apa bisa kau bersamaku dimalam ulang tahunku malam ini? Aku tunggu di tempat pertama kali kita bertemu jam tujuh tepat. Aku ingin kau datang…,
Aku mengirimkan pesan singkat itu padanya. Aku tau ini sedikit naïf tapi aku hanya ingin dia menjadi kado terbaik di hari ulangtahunku.
Dari pagi hingga sore Junsu tidak lagi menghubungiku. Entahlah aku bener-bener gak tau kenapa. Apa dia marah karena aku memintanya untuk bersamaku atau apa aku sama sekali gak tau! Aku tau ini bodoh tapi….,
Sore berganti malam dan kini aku berdiri di depan sebuah café tempat pertama kali kami bertemu. Aku tau mungkin dia gak akan pernah datang tapi aku ingin berharap. Aku ingin dia datang…., apa salah aku berharap? Apa salah aku meminta hal ini padanya?
Tepat pukul tujuh sekarang tapi tak ada tanda-tanda kedatangannya. Berkali-kali aku melihat jam ditanganku. Pukul tujuh lewat lima belas menit sekarang, dan Junsu tetap belum datang.dia pasti terjebak macet atau apa! Ya… dia pasti datang!
Aku terus meyakinkan diriku dan terus berharap. Pukul delapan sekarang. Waktu lebih cepat berlalu sekarang dan aku masih duduk di depan sebuah café yang malam ini tutup lebih awal dari biasanya.detik demi detik terasa jauh lebih cepat hingga tanpa terasa sudah tiga jam aku berdiri disini. Pukul sepuluh sudah sekarang. Aku ingin menyerah tapi…., hatiku tetap percaya kalau dia akan datang. Dia pasti datang.
Pukul sebelas tepat akhirnya aku hampir meneyrah tepat saat hujan mengguyurku. Dimalam yang dingin aku masih terus menunggunya walau hujan terus mengguyurku aku masih berharap dia akan datang. Puluhan taksi berhenti di depanku dan menawarkan jasanya tapi aku terus berkata tidak. Aku ingin disini. Aku ingin menunggunya disini. Semua harapanku semakin lama-semakin luntur karena hujan semakin deras. Ada suatu kenyataan yang membuatku sekarang menangis disini. Suatu kenyataan yang menyadarkanku kalau dia memang bukan milikku.
Ponselku tiba-tba berbunyi dan aku segera menerima panggilan itu. “Yeboseyo..,” kataku menggigil.
“Kau dimana?! Aku mencarimu dari tadi. Aku sudah membaca pesanmu. Kau dimana?!” teriak Junsu marah padaku. Aku hampir menangis karena bahagia dan sedih. Ternyata Junsu melupakan tempat ini. Tempat dimana dia pertama kali menarikku dalam masalahnya. Dia lupa…
“Katakan dimana kau!” teriaknya khawatir. Tapi aku terus menangis. Aku hanya diam sampai akhirnya aku marah padanya. “Apa kau lupa saat pertama kali kita bertemu! Saat kau menarikku dalam semua masalahmu! Aku menunggumu disini berjam-jam yang lalu dank au tidak datang! Kau harus menemukanku sekarang atau aku tidak akan memaafkanmu!”
Aku menutup ponselku dan menyimpannya lagi.
Air hujan terus mengguyurku dan kini aku kembali bersemangat. Aku tau Junsu pasti akan mencariku!
Bermenit-menit berlalu aku menunggu tapi dia masih belum terlihat! Dasar bodoh! Apa dia mau aku mati kedinginan disini!
Aku hampir menangis lagi saat kulihat dia berlari kearahku. Dia berlari dnegan cepat dan langsung memelukku erat. Aku diam, kaget dan gak tau harus bilang apa. Junsu memelukku??? Hangat itu yang kurasakan sekarang!
“Kemana saja kau!” teriakku padanya.
“Dasar bodoh!” Junsu terus memelukku sambil terus mengatakan aku bodoh!
“Oppa…., saranghae…, saranghaeyo…, oppa…” kata-kataku terhenti saat Junsu menciumku lagi. Untuk kedua kalinya. Disaat hujan yang turun mengguyur kami berdua. Lagi-lagi dia menciumku dan membuatku jauh lebih tenang dari pada kapan pun.
“Jangan lakukan hal bodoh ini lagi!” kata junsu padaku.
Hari-hari berlalu lebih cepat dari biasanya. Tak terasa waktuku bersama dnegan Junsu akan berakhir besok. Semua yang terjadi dalam 3 bulan terakhir membuatku gila! Kenyataan akan keluarga dan semuanya membuatku semakin dewasa. Besok adalah hari perpisahanku dan hari ulangtahunku. Aku ingin hari itu menjadi hari terbaik bagiku, tapi apa bisa?
Malam ini aku tidur lebih cepat dari biasanya dan berusaha untuk memimpikan hal-hal indah yangmungkin terjadi besok. Dalam tidur pun aku ingin terus bersamanya.
Paginya….
Aku mengirim pesan singkat ke ponselnya Junsu yang berisi,
Oppa.., hari ini hari terakhir kontrak kita. Aku senang karena telah mengenalmu dan aku mau hari terakhir ini kau bersamaku. Apa bisa? Apa bisa kau bersamaku dimalam ulang tahunku malam ini? Aku tunggu di tempat pertama kali kita bertemu jam tujuh tepat. Aku ingin kau datang…,
Aku mengirimkan pesan singkat itu padanya. Aku tau ini sedikit naïf tapi aku hanya ingin dia menjadi kado terbaik di hari ulangtahunku.
Dari pagi hingga sore Junsu tidak lagi menghubungiku. Entahlah aku bener-bener gak tau kenapa. Apa dia marah karena aku memintanya untuk bersamaku atau apa aku sama sekali gak tau! Aku tau ini bodoh tapi….,
Sore berganti malam dan kini aku berdiri di depan sebuah café tempat pertama kali kami bertemu. Aku tau mungkin dia gak akan pernah datang tapi aku ingin berharap. Aku ingin dia datang…., apa salah aku berharap? Apa salah aku meminta hal ini padanya?
Tepat pukul tujuh sekarang tapi tak ada tanda-tanda kedatangannya. Berkali-kali aku melihat jam ditanganku. Pukul tujuh lewat lima belas menit sekarang, dan Junsu tetap belum datang.dia pasti terjebak macet atau apa! Ya… dia pasti datang!
Aku terus meyakinkan diriku dan terus berharap. Pukul delapan sekarang. Waktu lebih cepat berlalu sekarang dan aku masih duduk di depan sebuah café yang malam ini tutup lebih awal dari biasanya.detik demi detik terasa jauh lebih cepat hingga tanpa terasa sudah tiga jam aku berdiri disini. Pukul sepuluh sudah sekarang. Aku ingin menyerah tapi…., hatiku tetap percaya kalau dia akan datang. Dia pasti datang.
Pukul sebelas tepat akhirnya aku hampir meneyrah tepat saat hujan mengguyurku. Dimalam yang dingin aku masih terus menunggunya walau hujan terus mengguyurku aku masih berharap dia akan datang. Puluhan taksi berhenti di depanku dan menawarkan jasanya tapi aku terus berkata tidak. Aku ingin disini. Aku ingin menunggunya disini. Semua harapanku semakin lama-semakin luntur karena hujan semakin deras. Ada suatu kenyataan yang membuatku sekarang menangis disini. Suatu kenyataan yang menyadarkanku kalau dia memang bukan milikku.
Ponselku tiba-tba berbunyi dan aku segera menerima panggilan itu. “Yeboseyo..,” kataku menggigil.
“Kau dimana?! Aku mencarimu dari tadi. Aku sudah membaca pesanmu. Kau dimana?!” teriak Junsu marah padaku. Aku hampir menangis karena bahagia dan sedih. Ternyata Junsu melupakan tempat ini. Tempat dimana dia pertama kali menarikku dalam masalahnya. Dia lupa…
“Katakan dimana kau!” teriaknya khawatir. Tapi aku terus menangis. Aku hanya diam sampai akhirnya aku marah padanya. “Apa kau lupa saat pertama kali kita bertemu! Saat kau menarikku dalam semua masalahmu! Aku menunggumu disini berjam-jam yang lalu dank au tidak datang! Kau harus menemukanku sekarang atau aku tidak akan memaafkanmu!”
Aku menutup ponselku dan menyimpannya lagi.
Air hujan terus mengguyurku dan kini aku kembali bersemangat. Aku tau Junsu pasti akan mencariku!
Bermenit-menit berlalu aku menunggu tapi dia masih belum terlihat! Dasar bodoh! Apa dia mau aku mati kedinginan disini!
Aku hampir menangis lagi saat kulihat dia berlari kearahku. Dia berlari dnegan cepat dan langsung memelukku erat. Aku diam, kaget dan gak tau harus bilang apa. Junsu memelukku??? Hangat itu yang kurasakan sekarang!
“Kemana saja kau!” teriakku padanya.
“Dasar bodoh!” Junsu terus memelukku sambil terus mengatakan aku bodoh!
“Oppa…., saranghae…, saranghaeyo…, oppa…” kata-kataku terhenti saat Junsu menciumku lagi. Untuk kedua kalinya. Disaat hujan yang turun mengguyur kami berdua. Lagi-lagi dia menciumku dan membuatku jauh lebih tenang dari pada kapan pun.
“Jangan lakukan hal bodoh ini lagi!” kata junsu padaku.





0 komentar:
Posting Komentar