Chapter 14
Pagi harinya semua berkumpul di basecamp tvxq dan terlihat cemas. Kami menunggu kabar dari hero oppa yang sampai sekarang sama sekali belum ada kabarnya. Semua panik terutama YUrika.
“Apa yang kalian lakukan?” teriak Hero oppa tiba-tiba.
“Hyung??” kata mereka semua bersamaan. Yurika diam saja tapi dia kaget sekaget-kagetnya.
“Dimana Erika?” tanyanya.
“Mmm..,” kata Hero oppa berpikir.
“Kau membiarkanku membawa semuanya sendiri… bantu aku dong!” teriak wanita dibelakangnya.
“Erika?” pikik YUrika. Dia langsung memeluk sahabatnya itu. Hamper menangis tapi ditahannya air mata yang hamper menetes lagi.
“Apa maksudnya ini?” Tanya Yoochun oppa kaget. “Bagaimana mungkin kalian kembali secepat ini? Butuh waktu berjam-jam dari Amerika.”
“Amerika? Siapa yang dari Amerika?” kata Hero pura-pura bego.
“Lho?”
“Erika hanya mempermainkan kalian! Mana ada acara tunangan. Dia marah padaku karena aku lupa memberitahunya kalau kita akan berlibur jadi dia datang dari Amerika saat kita berangkat. Dia sengaja membohongimu karena dia marah.” Kata Hero oppa panjang lebar. Yurika memeluk Erika erat-erat dan aku tertawa.
“Kau keterlaluan!” kata Yurika.
“Sudah.., sudah maafkan aku. Ayo kita makan. Aku bawa banyak makanan dari amerika.”
Saat semua orang asyik makan makanan oleh-oleh dari Erika aku mengajak Junsu keluar dari runagan dan bicara. Entah kenapa aku ingin mengatakan kalau aku mencintainya hari ini. Aku tau ini gila tapi…, waktuku bersamanya hanya tinggal dua minggu lagi. Aku harus mengatakannya.
“Ada yang mau ku katakana.” Kataku tiba-tiba Junsu oppa tidak melihatku. Kini kami berdiri di ruangan yang terpisah. Junsu melihat keluar dan aku terus menatapnya.
“Aku menyukaimu, sungguh.” Kata-kataku meluncur cepat.
Junsu hanya diam, dan aku mengulanginya lagi, “Aku menyukaimu.”
“Sudahlah…,” tiba-tiba dia menjawab ringan. “Lupakanlah. Aku tak akan mendengarnya. Lebih baik kita kembali ke dalam.” Saat dia berbalik aku gak tau harus gimana lagi tapi.., “Aku serius. Coba lihat aku! Kumohon!” junsu tetap tak perduli dan dia meniggalkanku.
Saat pulang kami hanya diam. Dia mengantarku sampai kerumah dan sesuatu tiba-tiba menarik perhatianku. Hyun adikku sedang di keroyok teman-temannya. Sayup-sayup kudengar mereka menertawakannya. “Hyun, anak pungut! Hahaha kau hanya anak pungut! Sudah kuduga! Ibuku bilang kalau ibumu punya satu anak pungut dan itu pasti kau!” teriak salah satu dari mereka. Aku berlari mendekat dan kata-kata Hyun membuatku terkejut. “Nuna kulah yang anak pungut! Bukan aku! Kalian salah!” teriaknya. Aku menjatuhkan barang-barang yang kubawa. Junsu berdiri disampingku. Ternyata kehadiranku disadari oleh mereka dan mereka berlari saat melihatku. Hyun terkejut melihatku. Aku terus menatapnya dan meminta penjelasan dengan apa yang telah ia katakan. Aku masuk ke rumahku disusul Junsu dan Hyun adikku. Ibu sedang menonton siaran televisi saat aku tiba-tiba masuk dengan emosi yang tak lagi bisa kusembunyikan.
“APa itu benar bu? Apa yang dikatakan Hyun itu benar?”
Ibu ku tiba-tiba kaget karena melihatku emosi. “Apa yang terjadi nak?”
“Katakan apa aku bukan anak ibu? Katakan?!”
Ibu terlihat bingung. Aku masih menunggu jawabanya tapi dia terus diam. “Katakan bu!”
“Kau tentu saja anakku.., apa yang.”
“Ibu jangan bohong lagi, biarkan nuna tau.” Joon tiba-tiba muncul dari kamarnya.
“Joon, katakan pada nuna apa yang kamu tau!”
Ibu terlihat panic. Tapi aku tetap tak perduli. Junsu berusaha menenangkanku tapi aku menepisnya. “Cukup! Ibu tau harusnya ibu beritahukan hal ini padamu sejak dulu. Tapi arisa…, walau bagaimanapun kau anak ku.”
“Apa maksud ibu?”
“18 tahun lalu ibu menemukanmu yang sedang menangis di jalan. Saat itu ibu tidak tau harus membawamu kemana, jadi ayah dan ibu sepakat membawamu kembali kerumah kami.”
“Jadi itu bener? Aku emang anak pungut! Aku…, apa ibu tau siapa orangtuaku???” kataku makin emosi.
“Ibu tidak yakin nak. Beberapa tahun lalu ayahmu sempat mencari keberadaan mereka tapi…, kami tak tahu dimana mereka. Yang ibu tau hanyalah kalau kau bukan anak yang dibuang. Orangtuamu sempat mencarimu tapi saat itu kita sudah pindah.”
“Jadi dimana mereka?”
“Ibu hanya tau mereka tinggal di Busan.”
“Busan?” kata Junsu kaget. “Aku akan membantumu mencarinya. Aku sangat mengenal daerah Busan kau jangan takut.” Kata-katanya malah membuatku semkain marah. “Pergi! Aku gak mau kamu disini! Pergi!” teriakku.
Junsu pergi Karen aibu menyuruhnya pergi secra baik-baik. Aku masih menangis dan aku masih tak bisa menerima semua ini.
Pagi harinya semua berkumpul di basecamp tvxq dan terlihat cemas. Kami menunggu kabar dari hero oppa yang sampai sekarang sama sekali belum ada kabarnya. Semua panik terutama YUrika.
“Apa yang kalian lakukan?” teriak Hero oppa tiba-tiba.
“Hyung??” kata mereka semua bersamaan. Yurika diam saja tapi dia kaget sekaget-kagetnya.
“Dimana Erika?” tanyanya.
“Mmm..,” kata Hero oppa berpikir.
“Kau membiarkanku membawa semuanya sendiri… bantu aku dong!” teriak wanita dibelakangnya.
“Erika?” pikik YUrika. Dia langsung memeluk sahabatnya itu. Hamper menangis tapi ditahannya air mata yang hamper menetes lagi.
“Apa maksudnya ini?” Tanya Yoochun oppa kaget. “Bagaimana mungkin kalian kembali secepat ini? Butuh waktu berjam-jam dari Amerika.”
“Amerika? Siapa yang dari Amerika?” kata Hero pura-pura bego.
“Lho?”
“Erika hanya mempermainkan kalian! Mana ada acara tunangan. Dia marah padaku karena aku lupa memberitahunya kalau kita akan berlibur jadi dia datang dari Amerika saat kita berangkat. Dia sengaja membohongimu karena dia marah.” Kata Hero oppa panjang lebar. Yurika memeluk Erika erat-erat dan aku tertawa.
“Kau keterlaluan!” kata Yurika.
“Sudah.., sudah maafkan aku. Ayo kita makan. Aku bawa banyak makanan dari amerika.”
Saat semua orang asyik makan makanan oleh-oleh dari Erika aku mengajak Junsu keluar dari runagan dan bicara. Entah kenapa aku ingin mengatakan kalau aku mencintainya hari ini. Aku tau ini gila tapi…, waktuku bersamanya hanya tinggal dua minggu lagi. Aku harus mengatakannya.
“Ada yang mau ku katakana.” Kataku tiba-tiba Junsu oppa tidak melihatku. Kini kami berdiri di ruangan yang terpisah. Junsu melihat keluar dan aku terus menatapnya.
“Aku menyukaimu, sungguh.” Kata-kataku meluncur cepat.
Junsu hanya diam, dan aku mengulanginya lagi, “Aku menyukaimu.”
“Sudahlah…,” tiba-tiba dia menjawab ringan. “Lupakanlah. Aku tak akan mendengarnya. Lebih baik kita kembali ke dalam.” Saat dia berbalik aku gak tau harus gimana lagi tapi.., “Aku serius. Coba lihat aku! Kumohon!” junsu tetap tak perduli dan dia meniggalkanku.
Saat pulang kami hanya diam. Dia mengantarku sampai kerumah dan sesuatu tiba-tiba menarik perhatianku. Hyun adikku sedang di keroyok teman-temannya. Sayup-sayup kudengar mereka menertawakannya. “Hyun, anak pungut! Hahaha kau hanya anak pungut! Sudah kuduga! Ibuku bilang kalau ibumu punya satu anak pungut dan itu pasti kau!” teriak salah satu dari mereka. Aku berlari mendekat dan kata-kata Hyun membuatku terkejut. “Nuna kulah yang anak pungut! Bukan aku! Kalian salah!” teriaknya. Aku menjatuhkan barang-barang yang kubawa. Junsu berdiri disampingku. Ternyata kehadiranku disadari oleh mereka dan mereka berlari saat melihatku. Hyun terkejut melihatku. Aku terus menatapnya dan meminta penjelasan dengan apa yang telah ia katakan. Aku masuk ke rumahku disusul Junsu dan Hyun adikku. Ibu sedang menonton siaran televisi saat aku tiba-tiba masuk dengan emosi yang tak lagi bisa kusembunyikan.
“APa itu benar bu? Apa yang dikatakan Hyun itu benar?”
Ibu ku tiba-tiba kaget karena melihatku emosi. “Apa yang terjadi nak?”
“Katakan apa aku bukan anak ibu? Katakan?!”
Ibu terlihat bingung. Aku masih menunggu jawabanya tapi dia terus diam. “Katakan bu!”
“Kau tentu saja anakku.., apa yang.”
“Ibu jangan bohong lagi, biarkan nuna tau.” Joon tiba-tiba muncul dari kamarnya.
“Joon, katakan pada nuna apa yang kamu tau!”
Ibu terlihat panic. Tapi aku tetap tak perduli. Junsu berusaha menenangkanku tapi aku menepisnya. “Cukup! Ibu tau harusnya ibu beritahukan hal ini padamu sejak dulu. Tapi arisa…, walau bagaimanapun kau anak ku.”
“Apa maksud ibu?”
“18 tahun lalu ibu menemukanmu yang sedang menangis di jalan. Saat itu ibu tidak tau harus membawamu kemana, jadi ayah dan ibu sepakat membawamu kembali kerumah kami.”
“Jadi itu bener? Aku emang anak pungut! Aku…, apa ibu tau siapa orangtuaku???” kataku makin emosi.
“Ibu tidak yakin nak. Beberapa tahun lalu ayahmu sempat mencari keberadaan mereka tapi…, kami tak tahu dimana mereka. Yang ibu tau hanyalah kalau kau bukan anak yang dibuang. Orangtuamu sempat mencarimu tapi saat itu kita sudah pindah.”
“Jadi dimana mereka?”
“Ibu hanya tau mereka tinggal di Busan.”
“Busan?” kata Junsu kaget. “Aku akan membantumu mencarinya. Aku sangat mengenal daerah Busan kau jangan takut.” Kata-katanya malah membuatku semkain marah. “Pergi! Aku gak mau kamu disini! Pergi!” teriakku.
Junsu pergi Karen aibu menyuruhnya pergi secra baik-baik. Aku masih menangis dan aku masih tak bisa menerima semua ini.





0 komentar:
Posting Komentar