Chapter 11
Matahari yang hari ini cukup bersahabat menyinari mataku, dan dengan enggan aku bangun dari tidur nyenyakku. Hari ini aku bangun dengan semangat. Dan bahkan aku sendiri kaget kalau aku bisa sesemangat ini untuk bertemu Junsu. Ada apa denganku! Aku bingung tapi aku senang. Ini hal yang sulit untuk kujelaskan. Tapi aku benar-benar ingin bersamanya hari ini.
Setelah menyiapkan sarapan untuk ibu dan kedua adikku aku pergi ke kampus untuk masuk kelas pagi ini. Junsu tidak menelponku. “Mungkin dia sibuk,” kataku pada hatiku. Atau jangan-jangan dia tidak membutuhkanku??? Kurasa jawaban kedua yang benar. Dia tidak membutuhkanku hari ini.
Kelas pagi ini terasa biasa-biasa saja. Sebentar-sebentar aku melihat ke ponselku, apa Junsu menghubungiku.., ternyata tidak. Tak ada satupun panggilan masuk. Jam makan siang terasa begitu cepat. Aku berjalan menuju kantin dan kulihat Arya mengejarku. Aku ingin lari tapi percuma. Sama sekali gak ada gunanya kalo aku lari dari dia. Lagipula kenapa aku harus lari, toh aku sudah baik-baik saja.
“Arisa..” panggilnya.
Aku tersenyum simpul tapi tiba-tiba dia memelukku. “Kau baik? Aku khawatir? Apa yang terjadi? Kenapa kau marah padaku?”
Setelah melepaskan pelukannya aku tersenyum lagi tapi entah kenapa pandanganku atas Arya kini berubah. Dia bagaikan seseorang yang bisa dibilang oppaku. Kurasa perasaan cintaku luntur seiring air hujan yang saat itu mengguyurku dan cinta itu telah digantikan olehnya…, ya… aku jatuh cinta padanya! Aku jatuh cinta pada Junsu tepat saat pertama kalinya dia menciumku.
Arya kaget melihat ekspresiku yang tiba-tiba berubah. Dengan sigap aku berlari darinya menuju lorong-lorong kampus. “Hei! Kau mau kemana?” teriak Arya dari kejauhan.
“Ada yang harus kulakukan! Kau jangan khawatir! Aku baik-baik saja! Sampai nanti!” teriakku sambil melambai padanya. Lariku kini semakin cepat dan kini aku melewati gerbang kampus yang kini ramai.
Aku memanggil taksi yang kini melintas, naik ke dalamnya dan segera meluncur ke apartemen mewah milik Junsu. Entah apa yang sedang kupikirkan hanya saja aku ingin bertemu dengannya dan memastikan perasaanku. Mobil ini cukup cepat hingga dalam waktu sepuluh menit aku sudah berlari masuk ke apartemennya yang ada dilantai tujuh. Aku berlari menuju lift, masuk dan menekan angka tujuh. Lift ini bergerak cepat menuju lantai tujuh. Setelah pintu terbuka aku keluar dan berlari dan tepat saat kulihat pintu apartemennya terbuka kulihat Junsu sedang bersama………, YURIKA!???!!
Oh tidak! Yurika sedang menangis dan Junsu terus memeluknya. Apa ini? Bukankah Yurika sangat mencintai Changmin oppa… tapi???? Kenapa ini??? Aku berjalan mendekat. Kudengar isakan tangis Yurika semakin dalam dan Junsu melihatku. Dia kaget dan Yurika akhirnya sadar akan kehadiranku. Aku berusaha bersikap biasa walau kutahu wajahku sudah merah padam. Jantungku terasa berhenti berdetak tapi aku harus berusaha bersikap biasa!
“Ada apa ini?” tanyaku berusaha tenang.
“A.. Arisa.., maaf tapi ini tidak seperti yang kau…”
“Tidak seperti apa? Hahaha… apa kau pikir aku berpikir kalau kalian menyembunyikan sesuatu dariku??? Tidak.., kau tenang saja. Kurasa aku datang di waktu yang salah.” Kataku kagok. Yurika berusaha menjelaskan tapi aku tidak mendengarkannya. Aku terus menatap mata junsu dan aku tak mengerti apa arti tatapannya.
“Sebaiknya aku pergi. Aku lupa membeli sesuatu…, aku akan kembali lagi nanti. Permisi.” Aku berlari meninggalkan mereka dan air mataku makin tak bisa dibendung. Aku tau Junsu tak akan mungkin mengejarku. Oh tuhan betapa bodohnya aku! Harusnya aku tau isi perjanjian diantara kami! Lagi pula Yurika lah orang yang terus di cintai junsu. Aku…, aku hanya orang yang dibayar olehnya!
Aku berlari keluar dari gedung apartemen itu dan memasuki taman kota. Disini cukup sepi. Aku tak bisa menghentikan tangisanku lagi. Dan tanpa sadar aku terjatuh di lingkarang pasir tempat anak-anak kecil membuat rumah pasir. Aku menangis disana dan kurasakan hatiku jauh lebih sakit dari waktu itu. Aku…, terluka lagi…
Aku menangis tanpa perduli tanggapan orang lain yang melihatku.., aku, aku hanya ingin menangis. Hanya itu…, aku gak tau mesti bilang apa lagi, rasa kehilangan itu begitu besar. Dan kejadian ini benar-benar menyadarkanku bahwa aku hanya orang yang dibayar olehnya dan bukan siapa-siapanya.
Tiap kali kenyataan itu kusadari tiap kali juga aku ingin berteriak dan marah pada diriku. Kenapa aku bodoh! Aku bodoh! Seseorang tiba-tiba memelukku dari belakang. Dia membuatku tenang. Ada sedikit ketenangan yang diberikannya padaku. Aku tak tau siapa dia tapi aku…, aku berbalik kearahnya, berusaha melihat sosok yang membuatku sedikit lebih tenang. Dan…, “kau?”
“Kenapa kau menangis disini?” Tanya Arya membantuku berdiri. Aku diam dan sama sekali tak percaya dengan yang ku lihat. Dia?? Kenapa dia lagi?!
“Apa dia yang membuatmu begini?”
Aku tak berani menatap matanya tapi aku berusaha berbohong. “Tidak.., aku baik-baik saja. Apa kau bisa mengantarku pulang?”
Arya mengangguk dan membawaku pergi dari taman. Kami menaiki bus yang berhenti di halte yang tak jauh dari taman. Bus ini ramai. Aku duduk disudut bersama Arya terus menatapku. Aku tau dia khawatir tapi kumohon tolong jangan membuat hatiku makin bingung. Kini aku sadar kalau aku benar-benar jatuh cinta pada Junsu. Yah.., aku tau aku sudah melanggar perjanjian itu tapi… aku mencintainya!
Bus itu berhenti di halte yang tak jauh dari rumahku. Arya terus menemaniku berjalan di bawah penerangan lampu jalan yang kini menyala, menandakan malam telah datang menyambutku. Arya terus mendesakku untuk bicara sampai tiba di depan rumahku aku berusaha meyakinkannya. “Aku baik. Dan tentang masalah ini, ini murni masalah pribadiku. Tolong tenanglah, aku akan baik ok!” kataku. Arya hanya diam lalu pergi. Aku masuk kerumah dan kulihat ibu sedang menonton tv di ruang keluarga. “Kau sudah pulang?” katanya.
“Aku pulang bu, oh ya aku mau tidur, tolong bilang pada Joon untuk mematikan stereo dikamarnya malam ini.”
Matahari yang hari ini cukup bersahabat menyinari mataku, dan dengan enggan aku bangun dari tidur nyenyakku. Hari ini aku bangun dengan semangat. Dan bahkan aku sendiri kaget kalau aku bisa sesemangat ini untuk bertemu Junsu. Ada apa denganku! Aku bingung tapi aku senang. Ini hal yang sulit untuk kujelaskan. Tapi aku benar-benar ingin bersamanya hari ini.
Setelah menyiapkan sarapan untuk ibu dan kedua adikku aku pergi ke kampus untuk masuk kelas pagi ini. Junsu tidak menelponku. “Mungkin dia sibuk,” kataku pada hatiku. Atau jangan-jangan dia tidak membutuhkanku??? Kurasa jawaban kedua yang benar. Dia tidak membutuhkanku hari ini.
Kelas pagi ini terasa biasa-biasa saja. Sebentar-sebentar aku melihat ke ponselku, apa Junsu menghubungiku.., ternyata tidak. Tak ada satupun panggilan masuk. Jam makan siang terasa begitu cepat. Aku berjalan menuju kantin dan kulihat Arya mengejarku. Aku ingin lari tapi percuma. Sama sekali gak ada gunanya kalo aku lari dari dia. Lagipula kenapa aku harus lari, toh aku sudah baik-baik saja.
“Arisa..” panggilnya.
Aku tersenyum simpul tapi tiba-tiba dia memelukku. “Kau baik? Aku khawatir? Apa yang terjadi? Kenapa kau marah padaku?”
Setelah melepaskan pelukannya aku tersenyum lagi tapi entah kenapa pandanganku atas Arya kini berubah. Dia bagaikan seseorang yang bisa dibilang oppaku. Kurasa perasaan cintaku luntur seiring air hujan yang saat itu mengguyurku dan cinta itu telah digantikan olehnya…, ya… aku jatuh cinta padanya! Aku jatuh cinta pada Junsu tepat saat pertama kalinya dia menciumku.
Arya kaget melihat ekspresiku yang tiba-tiba berubah. Dengan sigap aku berlari darinya menuju lorong-lorong kampus. “Hei! Kau mau kemana?” teriak Arya dari kejauhan.
“Ada yang harus kulakukan! Kau jangan khawatir! Aku baik-baik saja! Sampai nanti!” teriakku sambil melambai padanya. Lariku kini semakin cepat dan kini aku melewati gerbang kampus yang kini ramai.
Aku memanggil taksi yang kini melintas, naik ke dalamnya dan segera meluncur ke apartemen mewah milik Junsu. Entah apa yang sedang kupikirkan hanya saja aku ingin bertemu dengannya dan memastikan perasaanku. Mobil ini cukup cepat hingga dalam waktu sepuluh menit aku sudah berlari masuk ke apartemennya yang ada dilantai tujuh. Aku berlari menuju lift, masuk dan menekan angka tujuh. Lift ini bergerak cepat menuju lantai tujuh. Setelah pintu terbuka aku keluar dan berlari dan tepat saat kulihat pintu apartemennya terbuka kulihat Junsu sedang bersama………, YURIKA!???!!
Oh tidak! Yurika sedang menangis dan Junsu terus memeluknya. Apa ini? Bukankah Yurika sangat mencintai Changmin oppa… tapi???? Kenapa ini??? Aku berjalan mendekat. Kudengar isakan tangis Yurika semakin dalam dan Junsu melihatku. Dia kaget dan Yurika akhirnya sadar akan kehadiranku. Aku berusaha bersikap biasa walau kutahu wajahku sudah merah padam. Jantungku terasa berhenti berdetak tapi aku harus berusaha bersikap biasa!
“Ada apa ini?” tanyaku berusaha tenang.
“A.. Arisa.., maaf tapi ini tidak seperti yang kau…”
“Tidak seperti apa? Hahaha… apa kau pikir aku berpikir kalau kalian menyembunyikan sesuatu dariku??? Tidak.., kau tenang saja. Kurasa aku datang di waktu yang salah.” Kataku kagok. Yurika berusaha menjelaskan tapi aku tidak mendengarkannya. Aku terus menatap mata junsu dan aku tak mengerti apa arti tatapannya.
“Sebaiknya aku pergi. Aku lupa membeli sesuatu…, aku akan kembali lagi nanti. Permisi.” Aku berlari meninggalkan mereka dan air mataku makin tak bisa dibendung. Aku tau Junsu tak akan mungkin mengejarku. Oh tuhan betapa bodohnya aku! Harusnya aku tau isi perjanjian diantara kami! Lagi pula Yurika lah orang yang terus di cintai junsu. Aku…, aku hanya orang yang dibayar olehnya!
Aku berlari keluar dari gedung apartemen itu dan memasuki taman kota. Disini cukup sepi. Aku tak bisa menghentikan tangisanku lagi. Dan tanpa sadar aku terjatuh di lingkarang pasir tempat anak-anak kecil membuat rumah pasir. Aku menangis disana dan kurasakan hatiku jauh lebih sakit dari waktu itu. Aku…, terluka lagi…
Aku menangis tanpa perduli tanggapan orang lain yang melihatku.., aku, aku hanya ingin menangis. Hanya itu…, aku gak tau mesti bilang apa lagi, rasa kehilangan itu begitu besar. Dan kejadian ini benar-benar menyadarkanku bahwa aku hanya orang yang dibayar olehnya dan bukan siapa-siapanya.
Tiap kali kenyataan itu kusadari tiap kali juga aku ingin berteriak dan marah pada diriku. Kenapa aku bodoh! Aku bodoh! Seseorang tiba-tiba memelukku dari belakang. Dia membuatku tenang. Ada sedikit ketenangan yang diberikannya padaku. Aku tak tau siapa dia tapi aku…, aku berbalik kearahnya, berusaha melihat sosok yang membuatku sedikit lebih tenang. Dan…, “kau?”
“Kenapa kau menangis disini?” Tanya Arya membantuku berdiri. Aku diam dan sama sekali tak percaya dengan yang ku lihat. Dia?? Kenapa dia lagi?!
“Apa dia yang membuatmu begini?”
Aku tak berani menatap matanya tapi aku berusaha berbohong. “Tidak.., aku baik-baik saja. Apa kau bisa mengantarku pulang?”
Arya mengangguk dan membawaku pergi dari taman. Kami menaiki bus yang berhenti di halte yang tak jauh dari taman. Bus ini ramai. Aku duduk disudut bersama Arya terus menatapku. Aku tau dia khawatir tapi kumohon tolong jangan membuat hatiku makin bingung. Kini aku sadar kalau aku benar-benar jatuh cinta pada Junsu. Yah.., aku tau aku sudah melanggar perjanjian itu tapi… aku mencintainya!
Bus itu berhenti di halte yang tak jauh dari rumahku. Arya terus menemaniku berjalan di bawah penerangan lampu jalan yang kini menyala, menandakan malam telah datang menyambutku. Arya terus mendesakku untuk bicara sampai tiba di depan rumahku aku berusaha meyakinkannya. “Aku baik. Dan tentang masalah ini, ini murni masalah pribadiku. Tolong tenanglah, aku akan baik ok!” kataku. Arya hanya diam lalu pergi. Aku masuk kerumah dan kulihat ibu sedang menonton tv di ruang keluarga. “Kau sudah pulang?” katanya.
“Aku pulang bu, oh ya aku mau tidur, tolong bilang pada Joon untuk mematikan stereo dikamarnya malam ini.”
Aku menaiki tangga rumahku dan tiba dikamarku. Menutup pintu dibelakangku dan tertidur seketika.





0 komentar:
Posting Komentar