“Kau sendiri?” seseorang mengagetkanku. Aku tersenyum dan jantungku berdetak keras. Dia memberiku minuman kaleng dan aku mengambilnya sambil tersenyum. Dia duduk disampingku dan kami ngobrol dibawah pohon dekat danau.
“Kenapa bolos? Bukankah kau ada kelas pagi ini?” dia menatapku lembut dan aku gak bisa berpaling darinya.
“Kau baca koran pagi ini?” tanyaku seketika dan dia tersenyum.
“Yah…, aku membaca berita itu.”
Aku diam jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat lagi. Dia tertawa melihat ekspresiku. “Aku gak percaya berita itu. Aku mengenalmu dan sejauh ini aku gak pernah tau kalau kau punya pacar seorang penyanyi terkenal.” Dia tertawa lagi dan aku malah ikut-ikutan ketawa.
“Jadi, apa berita itu benar?” tiba-tiba pertanyaan itu meluncur bagai es yang jatuh menimpa kepalaku.
“Tentu saja tidak! Kau tau aku cewek lugu yang belum pernah jatuh cinta. Aku gak punya pacar, apalagi seorang penyanyi.” Ujarku berusaha meyakinkannya. Lagi-lagi dia tersenyum. Aku diam lagi. Dia melihat jauh ke danau dan aku menatapnya sembunyi-sembunyi. Pagi ini Arya memakai kemeja biru tua dan dia terlihat tampan. Aku gak bisa berhenti menatapnya. Oh tuhan aku bener-bener suka dia.
“Sudah waktunya. Aku harus mengajar. Kalo tidak mereka akan mencariku.” Arya berdiri dan aku juga berdiri. “Kau boleh ke sekolah kalau kau mau.”
Aku tersenyum dan dia segera pergi dan menghilang dalam kerumunan. Aku berharap bisa menemuinya di sekolah tapi sebentar lagi aku harus bekerja. Aku berjalan menuju gerbang. Bayangan Arya kembali menyelimuti otakku. Aku selalu senang setiap mengingat saat dia mengajar murid-muridnya di sekolah dasar yang juga ada dalam naungan kampusku. Aku senyum-senyum sendiri sampai ku sadari para paparazzi membuntutiku. Aku berusaha pura-pura gak sadar dan terus berjalan santai. Apa perduliku! Aku bener-bener sebel ngeliat tampang orang-orang yang mulai menunjuk-nunjuk kearahku!
Semua terlihat marah padaku tapi aku gak salah! Kenapa kalian bersikap begitu!!!! Ini semua karena Junsu! Dia yang bikin hidupku berantakan.
Tanpa sadar aku uda di toko dan Tuan Kim menyuruhku merapikan barang-barang yang menumpuk di gudang. Semua persediaan bahan makanan dimasukkan kedalam gudang namun masih berantakan. Sudah menjadi tugas mingguanku untuk merapikannya. Aku menghitung kembali beberapa persediaan yang ada dalam catatan dan semua lengkap. Aku mulai menyusun kotak-kotak itu satu persatu. Awalnya semua kulakukan dengan baik tapi tiba-tiba pikiran-pikiran menyebalkan akan kejadian kemarin terlintas dan tanpa sadar aku menjatuhkan sekotak penuh telur yang seharusnya menjadi bahan pangan utama toko ini selama sebulan. Semuanya berantakan. Aku panik, jelas. Tuan Kim yang mendengar keributan itu berlari mendatangiku dan alhasil aku dipecat karena sudah membuatnya mengalami kerugian besar. Aku di usir keluar dan Tuan Kim melemparkan tasku seenaknya.
“Pergi sana!”
“Tapi tuan…, aku…” kata-kataku terputus saat aku ditarik pergi dari toko. Aku menangis tapi orang ini masih menarikku menjauh. Dia membawaku ke balik toko yang tersembunyi. Aku mendorongnya menjauh dan kembali menangis.
“Kenapa kau menarikku! Aku harus minta maaf padanya.”
“Sudah cukup! Kau sudah gila! Dia mengusirmu seperti itu! Kau harusnya marah! Dimana harga dirimu!” teriaknya.
Aku menangis semakin keras karena sekarang aku sadar kalo aku uda gak punya pekerjaan lagi. Gimana aku bisa bayar hutang-hutang dan sekolah adik-adikku!
“Bekerjasamalah denganku.” Junsu tiba-tiba memberiku sapu tangannya. Aku tidak menghiraukannya tapi dia berinisiatif menghapus air mataku. Aku menatapnya dan lagi-lagi dia tersenyum.
“Apa yang harus kulakukan untukmu?” tanyaku tiba-tiba. Junsu tersenyum dan aku sadar dia pasti bener-bener puas sekarang.
“Kenapa bolos? Bukankah kau ada kelas pagi ini?” dia menatapku lembut dan aku gak bisa berpaling darinya.
“Kau baca koran pagi ini?” tanyaku seketika dan dia tersenyum.
“Yah…, aku membaca berita itu.”
Aku diam jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat lagi. Dia tertawa melihat ekspresiku. “Aku gak percaya berita itu. Aku mengenalmu dan sejauh ini aku gak pernah tau kalau kau punya pacar seorang penyanyi terkenal.” Dia tertawa lagi dan aku malah ikut-ikutan ketawa.
“Jadi, apa berita itu benar?” tiba-tiba pertanyaan itu meluncur bagai es yang jatuh menimpa kepalaku.
“Tentu saja tidak! Kau tau aku cewek lugu yang belum pernah jatuh cinta. Aku gak punya pacar, apalagi seorang penyanyi.” Ujarku berusaha meyakinkannya. Lagi-lagi dia tersenyum. Aku diam lagi. Dia melihat jauh ke danau dan aku menatapnya sembunyi-sembunyi. Pagi ini Arya memakai kemeja biru tua dan dia terlihat tampan. Aku gak bisa berhenti menatapnya. Oh tuhan aku bener-bener suka dia.
“Sudah waktunya. Aku harus mengajar. Kalo tidak mereka akan mencariku.” Arya berdiri dan aku juga berdiri. “Kau boleh ke sekolah kalau kau mau.”
Aku tersenyum dan dia segera pergi dan menghilang dalam kerumunan. Aku berharap bisa menemuinya di sekolah tapi sebentar lagi aku harus bekerja. Aku berjalan menuju gerbang. Bayangan Arya kembali menyelimuti otakku. Aku selalu senang setiap mengingat saat dia mengajar murid-muridnya di sekolah dasar yang juga ada dalam naungan kampusku. Aku senyum-senyum sendiri sampai ku sadari para paparazzi membuntutiku. Aku berusaha pura-pura gak sadar dan terus berjalan santai. Apa perduliku! Aku bener-bener sebel ngeliat tampang orang-orang yang mulai menunjuk-nunjuk kearahku!
Semua terlihat marah padaku tapi aku gak salah! Kenapa kalian bersikap begitu!!!! Ini semua karena Junsu! Dia yang bikin hidupku berantakan.
Tanpa sadar aku uda di toko dan Tuan Kim menyuruhku merapikan barang-barang yang menumpuk di gudang. Semua persediaan bahan makanan dimasukkan kedalam gudang namun masih berantakan. Sudah menjadi tugas mingguanku untuk merapikannya. Aku menghitung kembali beberapa persediaan yang ada dalam catatan dan semua lengkap. Aku mulai menyusun kotak-kotak itu satu persatu. Awalnya semua kulakukan dengan baik tapi tiba-tiba pikiran-pikiran menyebalkan akan kejadian kemarin terlintas dan tanpa sadar aku menjatuhkan sekotak penuh telur yang seharusnya menjadi bahan pangan utama toko ini selama sebulan. Semuanya berantakan. Aku panik, jelas. Tuan Kim yang mendengar keributan itu berlari mendatangiku dan alhasil aku dipecat karena sudah membuatnya mengalami kerugian besar. Aku di usir keluar dan Tuan Kim melemparkan tasku seenaknya.
“Pergi sana!”
“Tapi tuan…, aku…” kata-kataku terputus saat aku ditarik pergi dari toko. Aku menangis tapi orang ini masih menarikku menjauh. Dia membawaku ke balik toko yang tersembunyi. Aku mendorongnya menjauh dan kembali menangis.
“Kenapa kau menarikku! Aku harus minta maaf padanya.”
“Sudah cukup! Kau sudah gila! Dia mengusirmu seperti itu! Kau harusnya marah! Dimana harga dirimu!” teriaknya.
Aku menangis semakin keras karena sekarang aku sadar kalo aku uda gak punya pekerjaan lagi. Gimana aku bisa bayar hutang-hutang dan sekolah adik-adikku!
“Bekerjasamalah denganku.” Junsu tiba-tiba memberiku sapu tangannya. Aku tidak menghiraukannya tapi dia berinisiatif menghapus air mataku. Aku menatapnya dan lagi-lagi dia tersenyum.
“Apa yang harus kulakukan untukmu?” tanyaku tiba-tiba. Junsu tersenyum dan aku sadar dia pasti bener-bener puas sekarang.





0 komentar:
Posting Komentar