Senin, 26 Juli 2010

Last Angel Chapter 1

Chapter 1

Pagi ini pikiranku melayang. Aku terpaku disalah satu Café terkenal yang selalu dikunjungi anak muda yang bersantai sambil menikmati secangkir cappucino hangat. Mataku menerawang jauh pada buih-buih cappucino di cangkirku. Tanganku bener-bener gak bisa berhenti mengaduk isinya. Berkali-kali sudah ku baca majalah yang terbuka di hadapanku. Aku tak peduli lagi dengan berita yang ada di dalamnya. Aku sadar kalo mata-mata pengunjung mulai sembunyi-sembunyi menatap ke arah ku.
Perasaanku tiba-tiba gak enak. Seseorang sedang mengawasiku dari balik ruangan. Aku masih duduk tak bergeming, berusaha melupakan pikiran-pikiran gila yang tiba-tiba menyelimuti otakku. Pelan-pelan aku berdiri dan tiba-tiba seseorang menarikku.
Orang aneh berpenampilan super aneh dengan jaket, kaca mata, dan topi ski yang berusaha menutupi wajahnya. Aku udah bisa nebak, nih orang kalo bukan orang jahat berarti orang gila! Mana ada orang yang mau berpenampilan senyentrik itu saat musim panas.
Langkah kaki ku berhenti saat nih orang ngebawa aku melewati lorong-lorong kecil. Aku menarik tanganku yang udah merah banget. Jelas nih orang udah narik tanganku sekuat-kuatnya. Aku lemes. Nafasku masih ngos-ngosan tapi aku berusaha menguasai diri dan nyoba untuk ngedamprat nih orang!!!
“Apa yang kau lakukan?!!! Kau sudah gila!!! Kenapa menarikku???!!!” sewotku.
Nih orang masih diem aja. Dia memandangku dari kaca mata hitam besarnya. Aku tahu, untuk ukuran tubuhnya sudah jelas dia cowok! Tapi siapa? Nih orang maunya apa?
“Kau siapa?” teriakku.
Nih orang tetep diem aja. Tapi dia mulai ngebuka jaketnya, lalu topinya, dan akhirnya kaca matanya. Aku tahu siapa dia!!!! Tapi???
“You!!!!” teriakku lagi. Dia cuma cengar-cengir gak karuan. Dia…, tapi dia …, gimana mungkin????
“Kau kenal aku?” tanyanya bloon.
Oh tuhan! Jelas aku kenal dia. Xiah Junsu dari Dong Bang Shin Ki. Tapi apa urusannya denganku?
“Apa mau mu?” Tanyaku bingung.
“Tunggu…,” kata-katanya terhenti saat ku dengar beberapa pasang kaki melangkah mendekat. Junsu kaget saat salah satu dari mereka mengambil gambar kami berdua dengan kameranya. Dia menarikku. Topiku terjatuh dan beberapa paparazi lainnya menyerbu kearah kami.
“Apa yang sedang anda lakukan disini?” Tanya salah satu dari mereka yang bener-bener antusias. Mereka saling menyodorkan microphonenya pada Junsu dan aku tambah gak ngerti. Semua berdesakan. Junsu keliatan panik tapi dia berusaha menenangkan para paparazzi yang terlalu antusias. Gimana gak! Berita tentang Xiah Junsu dan seseorang yang kepergok disalah satu jalan kecil adalah berita bagus untuk majalah atau pun stasiun tv mereka. Aku jelas bingung banget. Apa yang akan terjadi????
Saat aku masih sibuk dengan kepanikanku, Junsu menarik tanganku lagi dan aku jatuh dalam pelukannya. Kejadian itu spontan di rekam dan diabadikan oleh para paparazzi yang semakin gila-gilaan. Aku coba untuk berdiri tapi Junsu merangkulkan lengannya dibahuku. Aku melirik ke arahnya dan dia cuma cengar-cengir.
“Selamat siang, maaf sebelumnya. Kurasa kalian bisa menebak apa yang saat ini kalian lihat. Hanya untuk memperjelas, kuperkenalkan kekasih baruku.” Semunya dengan cepat mengambil gambar kami lagi. Beberapa diantaranya melemparkan beberapa pertanyaan dan aku bener-bener udah mau lari dari tempat ini.
“Berapa lama kalian sudah bersama?” kata salah satu dari mereka. “Bagaimana dengan gossip antara anda dan Park Heebon??” kata yang lainnya.
“Kami sudah bersama sejak sebulan yang lalu. Dan mengenai gossip antara Park Heebon dan saya itu tidak benar! Sekali lagi saya tegaskan kami hanya berteman.”
Beberapa paparazzi terlihat gak percaya dan mulai kembali mengajukan banyak pertanyaan. Aku tahu Junsu sudah mulai gerah dengan semua ini dan aku pun ngerasain hal yang sama. Dengan sigap dia menarik tanganku dan ngebawa aku keluar dari kerumunan manusia yang terobsesi akan pertanyaan-pertanyaan mereka.
Aku masuk dalam mobil sport hitamnya dan kami melaju pergi. Aku masih gak tahu kenapa aku bisa duduk di jok mobilnya. Aku masih bengong dan gak ngerti mau ngomong apa sampai Junsu menghentikan mobilnya di hamparan pantai yang kini kosong.
“Thanks!” katanya dan itu akhirnya membangunkanku dari lamunanku.
Refleks kulempar tasku kearahnya dan tas itu mendarat tepat diwajahnya. Dia meringis dan aku memukulinya. Nih orang bener-bener harus dikasih pelajaran! Huh! Rasain!!!!
“Stop!, Stop! Tolong!!! Sakit! Aduh!”
Aku mendaratkan pukulan terakhir dan mendarat di pipinya. Aku kesel banget dan narik tasku dari tangannya. Junsu keliatan shock dan aku malah ketawa dalam hati. Hahaha…, rasain! Seenaknya aja masukin aku ke masalahmu!
“Maaf..” kata-kata itu meluncur dari bibirnya.
Aku tertegun. Gak nyangka kalo dia bakalan minta maaf. Ekspresi mukanya berubah. Dari ekspresi liar dan menyebalkan berubah menjadi ekspresi yang gak bisa ditebak. Dia keliatan sedih plus cemas. Aku gak ngerti apa yang terjadi sekarang. Aku menatap matanya lekat-lekat, dan aksiku ini membuatnya tiba-tiba tertawa. Ku lempar lagi tas ku dan dia meringis kesakitan. Nih orang emang kurang ajar! Bisa-bisanya aku tertipu oleh ekspresinya.
“Kau sudah gila!!!! Apa yang kau lakukan??? Aku gak ngerti!!! Kenapa semua paparazzi itu mengejarmu! Dan kenapa kau menarikku dalam masalahmu!!!!! Kau bahkan tak mengenalku!”
Dia tersenyum dan mengambil tissue dari kotaknya yang ada di hadapanku. Dia berusaha melakukan sesuatu pada wajahku dan ternyata dia hanya ingin menghapus noda diwajahku. Sejenak aku terpesona tapi seketika kutepis tangannya.
“Maaf sebelumnya. Kau kenal aku pastinya dan aku…, yah kurasa aku cukup mengenalmu.”
Nih orang bener-bener udah gila???? Dia kira aku bego apa???? Aku tau dia Xiah Junsu seorang penyanyi terkenal dan bagaimana mungkin dia mengenalku????
“Kau Arisa Akutagawa kan?”
Aku menatapnya sangsi dan dia kembali menatap laut melalui kaca mobilnya. “Kau putri pertama dari tiga bersaudara. Kau punya 2 adik laki-laki dan seorang ibu. Ayahmu telah meninggal dunia sebulan yang lalu. Benarkan?”
Lagi-lagi aku menatapnya tajam. Aku gak nyangka nih orang bisa tau keluargaku. Tapi buat apa dia tau??
“Aku tau kau sedang menyukai seseorang bahkan aku sering memergokimu yang sedang menangis tiap melihatnya.” Lanjutnya.
Ha???? Gimana bisa dia??? Oh tuhan nih orang!!!
“Aku hanya tau hal-hal itu sekarang. Tapi kalo aku mau aku bisa tau lebih banyak lagi. Tapi kurasa itu sudah cukup.”
“Apa mau mu??? Kau!!!! Bagaimana kau bisa tau semua ini???”
“Kau lupa siapa aku?”
Aku terdiam. Aku berpikir sejenak dan tiba-tiba dia mengagetkanku.
“Aku butuh bantuanmu.” Kata-kata itu meluncur dari bibirnya lagi.
Aku tertawa dan dia mendelik ke arahku. Aku gak ngerti. Bagaimana mungkin seorang Xiah Junsu mengatakan hal itu padaku.
“Aku tau keluargamu sedang dalam kesulitan. Ayahmu meninggalkan banyak hutang dan kau harus bekerja paruh waktu di beberapa tempat untuk melunasi semua hutang-hutangnya. Kau tau, aku bisa membayar semua hutang ayahmu asal kau mau membantuku.”
Aku diam lagi. Satu hal yang bikin aku bener-bener marah. Bagaimana mungkin dia tau hal ini!
“Itu bukan urusanmu. Aku bisa membereskan semua masalah keluargaku sendiri.”
“Oh ya? Aku tau kau berbohong. Aku melihatmu dipecat kemarin malam. Dan aku tau kau tidak akan mengatakan hal itu pada ibu mu yang sekarang sedang sakit. Karena itu aku menawarkan bantuan asalkan kau mau membantuku.”
Ekspresinya terlihat serius dan itu membuatku penasaran. Apa yang membuatnya begitu membutuhkanku sehingga melakukan semua ini.
“Apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanyaku dengan nada mencela.
“Jadilah pacarku.”
What???? Nih orang udah bener-bener gila! Apa maksudnya!!!! Mau mengerjaiku!!!!
“Kau gila!”
“Bukan maksudku…, jadilah pacar kontrakku.” Katanya gugup.
Aku melemparkan tasku untuk kesekian kalinya. Dan ternyata Junsu bisa membaca pikiranku sehingga tasku mendarat tepat disamping lengannya.
“Apa kau bisa berhenti melempariku!” teriaknya.
“Kau sudah gila!!!! Apa kau pikir aku akan menjual harga diriku!!!! Permainan konyol apa ini!!!”
“Dengarkan! Aku hanya butuh bantuanmu untuk sementara waktu! Aku akan membayar mahal semuanya!”
“Apa kau kira kau bisa membeliku!” teriakku.
“Coba kau pikir! Aku bisa membayar semua hutang keluargamu! Aku bisa memberikan kehidupan yang layak untuk keluargamu! Kau cukup berpura-pura sebagai kekasihku dihadapan umum!”
“Maaf, aku sama sekali tidak tertarik!” aku mengambil tasku dan berlari meninggalkan mobil itu.
Aku berlari menuju jalan dan menaiki bus yang berhenti di halte yang tak jauh dari pantai.

0 komentar: